ESDM: Jangan Ada Pernyataan bahwa Pemerintah Membiarkan Pertamina Rugi

Kompas.com - 26/03/2018, 07:07 WIB
Pekerja beraktivitas di Lapangan Senipah, Peciko dan South Mahakam (SPS) yang merupakan tempat pengolahan minyak dan gas bumi dari Blok Mahakam, Kutai Kartanegara, Rabu (27/12). Pertamina akan mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie mulai 1 Januari 2018. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho GumayPekerja beraktivitas di Lapangan Senipah, Peciko dan South Mahakam (SPS) yang merupakan tempat pengolahan minyak dan gas bumi dari Blok Mahakam, Kutai Kartanegara, Rabu (27/12). Pertamina akan mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie mulai 1 Januari 2018.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah enggan disebut sebagai biang kerok kerugian yang bisa dialami PT Pertamina (Persero) akibat menanggung selisih harga solar subsidi dan premium.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM sekaligus Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Ego Syahrial bilang, pemerintah tidak membiarkan Pertamina merugi. Pemerintah mempunyai banyak cara untuk membantu Pertamina. Salah satu caranya dengan memberikan pengelolaan Blok Mahakam kepada Pertamina.
 
Dia menyebutkan,  keuntungan yang bisa didapat Pertamina dari Blok Mahakam bisa mencapai Rp 7 triliun. "Pemerintah kan banyak cara. Contoh Pertamina diberikan Mahakam, untungnya berapa? Rp 7 triliun, bersih," sebut Ego pada Jumat (23/3/2018).

Ego meminta agar tidak ada lagi pernyataan yang menyudutkan pemerintah seolah-olah telah merugikan Pertamina dengan keputusan harga solar dan premium. "Artinya Pemerintah memikirkan juga. Jadi jangan ada sampai pernyataan bahwa pemerintah membiarkan Pertamina rugi, tidak ada," ucap dia.

Baca juga : Pertamina Sebut Harga Premium Semestinya Rp 8.600 Per Liter

Seperti diberitakan, pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan memutuskan tidak menaikan harga BBM jenis solar subsidi dan premium hingga 2019. Akibat keputusan tersebut, Pertamina menghitung adanya potensi kerugian sebesar RP 3,9 triliun selama periode Januari-Februari 2018. Sementara hingga akhir tahun 2018, Pertamina memproyeksi adanya potensi kerugian sebesar Rp 24 triliun.

Perhitungan tersebut didasarkan pada formula harga jual eceran BBM. Harga premium seharusnya sudah mencapai Rp 8.600 per liter untuk April–Juni 2018.Sedangkan premium saat ini masih dijual Rp 6.450 per liter. Ini berarti telah ada selisih harga sebesar Rp 2.150 per liter.

Sementara untuk BBM jenis solar, dengan formula harga harusnya harga solar saat ini sebesar Rp 8.350 per liter. Saat ini solar masih dijual seharga Rp 5.150 per liter. Ini berarti ada selisih harga Rp 3.200 per liter. (Febrina Ratna Iskana)

Berita ini sudah tayang di Kontan.co.id dengan judul ESDM: Pertamina dapat untung Rp 7 triliun dari Blok Mahakam

Kompas TV Pasokan bensin bersubsidi jenis premium mulai raib di SPBU.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X