Ekonom dan Pemimpin Bisnis Cemaskan Perang Dagang AS-China

Kompas.com - 26/03/2018, 10:51 WIB
Buruh melintasi kontainer di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (13/9/2017). Buruh angkut di pelabuhan ini mendapat upah Rp 7.000 perton. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOBuruh melintasi kontainer di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (13/9/2017). Buruh angkut di pelabuhan ini mendapat upah Rp 7.000 perton.

BEIJING, KOMPAS.com - Sejumlah ekonom dan pemimpin bisnis dunia berkumpul di Beijing untuk menghadiri acara tahunan China Development Forum akhir pekan lalu. Salah satu topik hangat yang mengemuka dalam pertemuan tersebut adalah ancaman perang dagang antar AS dan China.

"Ada banyak kekhawatiran mengenai perkembangan geopolitik yang meluas dan ada banyak kekhawatiran mengenai konflik yang terjadi pekan lalu," ujar ekonom Larry Summers seperti dikutip dari CNBC, Senin (26/3/2018).

Pada akhir pekan lalu, Beijing menyatakan bakal menerapkan tarif impor untuk 128 produk asal AS. Ini adalah kebijakan balasan atas keputusan Presiden AS Donald Trump yang memutuskan untuk menerapkan tarif untuk impor baja dan alumunium dari China.

Pada pekan ini, Trump pun bakal mengumumkan rencana tarif impor produk dari China dengan nilai hingga 60 miliar dollar AS. Akan tetapi, China tidak secara resmi mengaitkan ancaman yang ditebar akhir pekan lalu dengan aksi Gedung Putih tersebut.

Baca juga: Soal Perang Dagang, Darmin Sebut Imbas ke Indonesia Tak Selalu Negatif

"Saya tak berpikir sebelumnya dalam forum tersebut terasa kita akan segera berada dalam pusaran perang dagang. Saya pikir tentu saja ini adalah perkembangan yang disayangkan," tutur Summers, yang sebelumnya menjabat Presiden Harvard University, serta kepala ekonom Bank Dunia dan Departemen Keuangan AS.

Para ekonom pemenang hadiah Nobel Robert Shiller dan Joseph Stiglitz pun hadir dalam pertemuan tahunan itu. Mereka memprediksi adanya "luka" pada perekonomian AS apabila Beijing dan Washington saling serang soal perdagangan.

Perusahaan-perusahaan AS ungkap Shiller, tidak siap untuk memotong China dari rangkaian bisnis mereka. Dia menyebut krisis ekonomi pun bisa terjadi sebagai buntut perang dagang tersebut.

"Hal yang terjadi dalam waktu dekat adalah krisis ekonomi, karena perusahaan-perusahaan ini dibangun dengan rencana jangka panjang, mereka mengembangkan tenaga kerja terampil dan cara dalam melakukan bisnis," ujar Shiller.

Sejumlah pemimpin bisnis yang hadir dalam pertemuan bisnis tersebut juga menyoroti ketegangan perdagangan yang kian memanas. CEO Johnson & Johnson Alex Gorsky menyatakan bahwa perdagangan yang terbuka adalah kebijakan terbaik agar bisnis dapat sukses.

"Pada akhirnya, kita berpikir bahwa memiliki perdagangan yang adil di seluruh dunia adalah hal terbaik bagi semua pihak," ucap Gorsky.

Kompas TV Tudingan kecurangan dagang terus diembuskan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X