Tony Prasetiantono: Bitcoin Itu Versi Indonesia-nya First Travel...

Kompas.com - 28/03/2018, 18:25 WIB
Suasana peluncuran buku Laporan Perekonomian Indonesia 2017 di Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018). Dalam acara ini, hadir mantan Wakil Presiden Boediono, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara, dan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo. KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERASuasana peluncuran buku Laporan Perekonomian Indonesia 2017 di Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018). Dalam acara ini, hadir mantan Wakil Presiden Boediono, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara, dan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo.

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia, Tony Prasetiantono, menilai, bitcoin mirip dengan First Travel, sebuah agen perjalanan yang menipu pelanggannya dengan iming-iming tertentu.

Kemiripan antara bitcoin dengan First Travel diungkapkan saat Tony menjelaskan tentang risiko salah satu jenis cryptocurrency atau mata uang virtual tersebut.

"Para ekonom besar merasa bitcoin itu sebenarnya ponzi scheme atau mainan karena peserta di awalnya dapat, tapi yang belakangan enggak dapat apa-apa. Jadi, bitcoin itu versi Indonesia-nya First Travel," kata Tony saat menjadi moderator acara peluncuran buku Laporan Perekonomian Indonesia 2017 di Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018).

Baca juga: DBS: Bitcoin Adalah Skema Ponzi

Tony menjelaskan, cara kerja bitcoin di awal banyak menawarkan keuntungan dan kemudahan kepada para pemainnya. Namun, semakin ke belakang, tidak ada jaminan keamanan sehingga uang dari hasil bitcoin bisa dengan mudah hilang, bahkan dalam jumlah besar.

Seumpama dengan kasus First Travel,  ada sejumlah peserta tur yang diberi diskon dan tawaran menarik dengan harga murah untuk menarik minat calon pelanggan lain.

Setelah namanya terkenal dan banyak yang mendaftar, ternyata pelayanannya tidak sesuai dengan ekspektasi, bahkan manajemen First Travel menyalahgunakan uang iuran peserta tur.

Tony menyebut, Indonesia melalui Bank Indonesia sebagai otoritas moneter sudah dengan tegas menolak bitcoin.

Posisi regulasi sejumlah negara terhadap perdagangan bitcoin di duniaBloomberg Posisi regulasi sejumlah negara terhadap perdagangan bitcoin di dunia

Penolakan didasari sejumlah hal, antara lain tidak ada dasar penggerak harga atau underlying asset pada bitcoin, tidak ada otoritas, juga tidak ada supervisi yang dapat menerapkan mekanisme intervensi bila nilainya jatuh.

" Bitcoin itu, kan, cryptocurrency, memakai istilah currency tapi prinsip mata uang dilanggar," tutur Tony.

Kompas TV Bank Indonesia akan mengkaji aturan khusus untuk penggunaan uang virtual.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X