Importir Keluhkan Biaya Logistik yang Tinggi di Indonesia

Kompas.com - 03/04/2018, 19:17 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat Terminal Peti Kemas Kalibaru atau New Priok Container Terminal beberapa waktu lalu.TRIBUNNEWS / HERUDIN Suasana aktivitas bongkar muat Terminal Peti Kemas Kalibaru atau New Priok Container Terminal beberapa waktu lalu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Importir Nasional Indonesia atau Ginsi mengeluhkan biaya logistik di Indonesia yang masih cukup tinggi, bahkan tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

"Sekarang ini cost logistik di Indonesia masih yang tertinggi di Asean, sekitar 20 sampai 25 persen dari PDB. Kita lebih tinggi dari Vietnam, Malaysia juga jauh di bawah kita, Filipina juga di bawah kita, dan Singapura enggak usah ditanya lagi," ucap Ketua Umum Ginsi Anton Sihombing dalam acara Forum Logistik bertajuk Dwelling Time: Meningkatkan atau Menurunkan Biaya Logistik? di Hotel Le Meridien Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Di negara-negara tersebutbiaya logistik hanya sampai 20 persen dari PDB, bahkan sudah ada yang menerapkan 15 persen.

Di Indonesia, tingginya biaya logistik tersebut berimbas pada mahalnya barang-barang yang dibeli oleh konsumen.

Kemudian, Anton mencoba mengidentikasi penyebab tingginya biaya logistik tersebut dan menurutnya, dwell time atau masa tunggu peti kemas di pelabuhan bukan menjadi sebuah masalah utama yang berdampak pada hal tersebut.

Biaya di pelabuhanlah yang justru menjadi biang keladi atas tingginya biaya logistik di Indonesia.

"Yang bikin biaya logistik tinggi itu cost pelabuban yang tinggi, antara lain kalau barang-barang yang jalur merah walaupun itu kesalahan kontainer atau perusahaan bayarnya bisa sekian ratus persen. Belum lagi hal-hal lain seperti angkutan transportasi yang tinggi," sambung Anton.

Maka dari itu, Anton berharap pemerintah selaku regulator bisa turut serta dalam mengurangi biaya di pelabuhan yang cukup tinggi tersebut.




Close Ads X