Indef Soroti Akuisisi Uber oleh Grab dan Nasib Pengemudinya

Kompas.com - 05/04/2018, 10:00 WIB
Sejumlah pengemudi ojek berbasis daring Uber mengantre mendaftarkan diri ke kantor Go-Jek di kawasan Cilandak, Jakarta, Senin (2/4/2018). Pasca-akusisi perusahaan transportasi daring Uber Technologies oleh Grab, ratusan driver Uber mendaftar ke Go-Jek karena dinilai aturannya lebih jelas dan menguntungkan mitra pengemudi. ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTASejumlah pengemudi ojek berbasis daring Uber mengantre mendaftarkan diri ke kantor Go-Jek di kawasan Cilandak, Jakarta, Senin (2/4/2018). Pasca-akusisi perusahaan transportasi daring Uber Technologies oleh Grab, ratusan driver Uber mendaftar ke Go-Jek karena dinilai aturannya lebih jelas dan menguntungkan mitra pengemudi.

KOMPAS.com — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti nasib pengemudi Uber setelah perusahaan aplikasi transportasi tersebut diakuisisi Grab per 26 Maret 2018.

Menurut Indef, pemerintah harus turun tangan. Sebab, Uber tidak bisa lepas tangan begitu saja terhadap para pengemudinya di Indonesia.

"Ini menyangkut kepastian nasib mantan mitra pengemudi Uber, skemanya bagaimana? Mestinya pemerintah minta pertanggungjawaban ke Uber terkait kepastian mitra pengemudi," ujar Direktur Indef Enny Sri Hartati melalui keterangannya, Rabu (4/4/2018).

Indef juga menyoroti Grab sebagai perusahaan yang mengakuisi Uber dalam keberlangsungan mitra pengemudi. Seharusnya sebagai perusahaan pengakuisisi, Grab berkewajiban membawa semua aset Uber, termasuk para pengemudinya.

Baca juga: Komisi Pengawas Persaingan Singapura Selidiki Merger Grab-Uber

"Kalau tidak salah, memang Grab punya kewajiban menampung mitra pengemudi Uber, tetapi dengan proses seleksi yang ditentukan Grab. Ya, sama saja bohong, tidak memberi kepastian terhadap pengemudi Uber," katanya.

Di lain sisi, Enny mengapresiasi langkah Go-Jek yang mau menampung dan tidak mempersulit para pengemudi Uber bergabung. Dengan demikian, para pengemudi ini bisa tetap bekerja sebagai pengemudi transportasi online dan memperoleh pendapatan.

Sebelumnya, ribuan pengemudi Uber menolak bergabung ke Grab dan memilih bergabung ke Go-Jek, perusahaan transportasi online lain. Pasalnya, Grab dinilai mempersulit daftar ulang mitra pengemudi Uber.

Hal ini dialami Topan (36), mantan pengemudi Uber. Dia pada Senin (2/4/2018) mendatangi kantor Go-Jek di Ruko Crystal Lane di Alam Sutera, Tangerang Selatan, untuk mendaftar menjadi pengemudi Go-Jek. Ia mengaku pindah ke Go-Jek lantaran kecewa dengan Uber.

Baca juga: Pengemudi Uber Berbondong-bondong Daftar Jadi Mitra Go-Jek di Bekasi

Pasalnya, dia dan para pengemudi Uber lainnya yang ikut membesarkan Uber di Indonesia merasa dibuang begitu saja dan tidak mendapatkan apa-apa dari akuisisi tersebut. “Bahkan, perusahaan yang mengakuisisinya juga mempersulit kami melakukan daftar ulang,” kata Topan.

Sementara saat mendaftar di Go-Jek, ia dan kawan-kawannya justru dipermudah. Hanya dalam waktu tidak sampai satu jam, ia sudah bisa langsung menjadi pengemudi Go-Jek. "Namun, karena masih baru, saya tidak langsung narik, harus mempelajari aplikasinya dulu," katanya.

Ada juga cerita Anton yang mantap masuk Go-Jek karena tergiur penetapan tarifnya lebih tinggi dan disertai dengan bonus tambahan. "Banyak teman saya yang sudah di Go-Jek lama. Mereka cerita lebih menguntungkan dari ojek online lain, jadi saya mau coba juga," katanya.

Ia berharap dengan bergabung dengan Go-Jek, penghasilannya bisa lebih besar. “Ketika di Uber, biasanya sehari saya bisa dapat Rp 200.000. Mudah-mudahan di sini bisa lebih besar,” pungkasnya.

Baca juga: Alasan Pengemudi Uber Ini Lebih Memilih Pindah ke Go-Jek

Seperi diketahui, setelah diakuisisi Grab, mitra pengemudi Uber yang beroperasi di Asia Tenggara diharuskan mendaftarkan diri lagi untuk menjadi mitra pengemudi Grab.

Grab memberikan waktu hingga 8 April 2018 untuk masa transisi ini. Sebelum tanggal tersebut, aplikasi Uber masih aktif dan bisa digunakan seperti biasanya oleh mitra pengemudi dan penumpang.

Berita ini sudah tayang di Kontan.co.id dengan judul Pemerintah diminta turun tangan soal nasib pengemudi Uber pada Rabu (4/4/2018)

Kompas TV Sejumlah pelamar mengaku lebih memilih pindah ke Go-Jek mengingat tarif dan bonus yang didapat akan lebih menjanjikan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X