OJK: Likuiditas Bank Muamalat Masih Berjalan Baik

Kompas.com - 11/04/2018, 16:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memastikan kalau Bank Muamalat hanya bermasalah dalam hal penambahan modal guna memperluas ekspansinya.

Wimboh juga menambahkan, kondisi Bank Muamalat di luar itu masih sangat baik.

"Bank ini dananya itu sustain ya dan dananya dana murah. Kemudian ini emosionalnya cukup kuat antara para penabung dan pemilik deposito bank. Jadi kami tidak khawatir soal likuiditasnya," terang Wimboh selepas Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Kemudian, lanjut Wimboh, permasalahan terkait permodalan Bank Muamalat muncul setelah banyak nasabah besar mengalami kesulitan cashflow sebagai imbas menurunnya harga komoditas.

Baca juga : Ini Masalah Bank Muamalat yang Disampaikan OJK ke Komisi XI

Bank-bank dengan permodalan cukup besar tidak terganggu dengan kondisi tersebut. Namun, lain halnya dengan Bank Muamalat yang kondisi permodalannya dinilai Wimboh cukup moderat.

"Oleh karena itu kita minta pemegang saham pengendalinya untuk menambah modal. Nah khusus Muamalat ini ternyata pemegang saham pengendalinya ada kendala aturan internal mereka yang tidak boleh menempatkan modal dalam threshold dengan presentasi tertentu," jelas Wimboh.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K Permana menegaskan kepada Komisi XI DPR bahwa kinerja keuangan pihaknya per Desember masih baik dan bertumbuh.

"Mengenai kondisi keuangan, Desember terlihat kita masih ada pertumbuhan. Yang jadi kunci ketika bermasalah adalah likuiditas dan DPK. DPK ini kita tumbuh besar dibanding pembiayaan. Dari sisi likuiditas sangat sustain, awal Januari kemarin DPK kita berlebihan," jelas Permana.

Berdasarkan data yang dipaparkan Permana, DPK Bank Muamalat tumbuh 16,14 persen atau jauh lebih tinggi dibanding pembiayaan yang hanya 3,19 persen pada 2017.

Sebagai informasi, pemegang saham mayoritas Bank Muamalat saat ini adalah Islamic Development Bank (IDB) sebesar 32,74 persen, Ban Boubyan 22 persen, Atwil Holding Limited 17,91 persen, dan National Bank of Kuwait 8,45 persen.

Sisanya dimiliki oleh perorangan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

"Dari segi permodalan, IDB selaku pemegang saham mayoritas memiliki keterbatasan, dalam artian secara aturan internal, penyertaan maksimumnya itu 22 persen dan itu membuat IDB enggak bisa tambah modal lagi. Sementara pemegang saham besar lainnya juga mengalami masalah sama, sedang konsolidasi," sambung Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana.

Kompas TV Simak dialognya dalam Kompas Bisnis berikut ini!
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.