Bank Mandiri Teken Perjanjian Kerjasama dengan Lima BUMN Penjaminan Kredit dan Asuransi - Kompas.com

Bank Mandiri Teken Perjanjian Kerjasama dengan Lima BUMN Penjaminan Kredit dan Asuransi

Kompas.com - 16/04/2018, 21:21 WIB
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, lakukan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama dengan PT Asuransi Jiwasraya(Persero), Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia, PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero), PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero), dan PT Asuransi ASEI Indonesia di Jakarta, Senin (16/4/2018).KOMPAS.com/Mutia Fauzia PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, lakukan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama dengan PT Asuransi Jiwasraya(Persero), Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia, PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero), PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero), dan PT Asuransi ASEI Indonesia di Jakarta, Senin (16/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Mandiri melangsungkan penandatanganan kerjasama dengan lima BUMN Asuransi, yaitu PT Asuransi Kredit Indonesia (PT Askrindo), PT Asuransi Jasa Indonesia (PT Jasindo), PT Asuransi Jiwasraya, PT Asuransi Asei Indonesia, dan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia, Senin (16/4/2018).

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman A. Arianto mengatakan, penandatanganan kerjasama dengan perusahaan asuransi ini dilakukan secara bersamaan untuk meningkatkan sinergi antar BUMN.

"Prinsipnya Mandiri kali ini bekerja sama dengan lima asuransi yang ada, ini bukan hal yang baru, selama ini kami sudah bekerja sama dengan 5 asuransi ini, sudah bertahun tahun," ujar Sulaiman selepas acara, Senin (16/4/2018).

Sulaiman menambahkan untuk Bank Mandiri nilai kredit sudah mencapai Rp 740 triliun. Namun, kredit yang sudah dijamin oleh perusahaan asuransi BUMN baru 20 persen. Sehingga diharapkan melalui perjanjian kerjasama ini dapat meningkatkan jumlah penjaminan kredit oleh BUMN.

"Asuransi itu bermacam-macam, tujuan hari ini untuk memenuhi kepentingan kedua belah pihak. Kita ingin sinergi yang sehat," imbuh Sulaiman.

Lebih lanjut Sulaiman menjelaskan, fungsi asuransi bukan untuk mengalihkan risiko, karena bank tentu telah memiliki prosedur tersendiri untuk mengantisipasi resiko-resiko yang ada.

"Tetapi ada beberapa resiko yang secara praktek bank tidak dapat diterima, contohnya asuransi jiwa," imbuhnya.

"Nah ketika terjadi nasabah yang mengalami kematian dan kredit sudah tidak bisa ditagih, secara kebetulan kreditnya dicover oleh asuransi, maka akan kita klaim," pungkas Sulaiman.



Close Ads X