Kompas.com - 20/04/2018, 13:00 WIB
Ilustrasi fintech www.thinkstockphotos.comIlustrasi fintech

KOMPAS.com - Aktivitas pinjam meminjam sudah berubah. Sebelumnya, masyarakat telah mengenal layanan koperasi, bank, bahkan “bank keliling” yang cenderung memliki konotasi negatif karena bunganya yang tinggi, sebagai penyedia layanan pinjam meminjam.

Sejalan dengan munculnya teknologi finansial (tekfin atau fintech), di era 2000-an, masyarakat global mulai mengenal layanan pinjam meminjam baru berbasis teknologi yang disebut peer to peer (P2P) lending. Pertama kali muncul di Inggris pada tahun 2005, P2P lending kemudian berkembang ke Amerika Serikat dan China. Di China sendiri, P2P lending bahkan mengalami perkembangan pesat hingga dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.

Mengikuti tren global, P2P lending di Indonesia muncul sejak 2015 dan saat ini tercatat sudah ada 44 penyedia layanan yang telah terdaftar dan mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca juga : Ini Cara Membedakan Fintech Peer-to-Peer Lending dengan Payday Loan

Meski mayoritas masyarakat melihat layanan P2P lending sebagai penyedia pinjaman semata, layanan ini sebenarnya juga dapat menjadi sarana untuk menambah aset investasi yang cukup menjanjikan di masa depan. Besarnya potensi layanan P2P lending pun membuat angka dana pinjaman, jumlah peminjam dan pemberi pinjaman P2P lending di Indonesia terus melesat.

Namun, sebagai layanan yang terbilang baru, meski kepercayaan masyarakat sudah mulai terbentuk, masih ada kekhawatiran terutama karena kurangnya pemahaman mendalam akan layanan ini.

Untuk itu, berikut kami rangkum 5 fakta dan mitos layanan P2P lending yang perlu Anda ketahui:

1. Siapa saja bisa jadi peminjam

Dilihat dari sasaran peminjam, setiap penyedia layanan memiliki fokus masing-masing. Baik perorangan maupun pelaku usaha bisa menjadi peminjam. Bahkan, ada salah satu penyedia layanan yang secara khusus menyasar perempuan pedesaan yang tidak memiliki rekening ataupun akses ke bank (unbanked) dan mengajukan pinjaman untuk usaha produktif saja.

Namun demikian, salah satu mitos P2P lending yang berkembang di masyarakat adalah bahwa layanan ini bisa diakses oleh siapa saja tanpa syarat. Faktanya, peminjam, baik perorangan maupun pelaku usaha, harus melewati serangkaian seleksi dengan sistem yang berbeda antara satu penyedia layanan dengan yang lain. Salah satunya menggunakan machine learning cerdas untuk mendeteksi kemampuan usaha setiap peminjam, serta karakter dan jenis usaha mereka.

2. P2P lending menyediakan dana tak terbatas

Halaman:


Video Pilihan

Sumber AFTECH
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.