Perangi Investasi Bodong, MAMI dan MES Beri Edukasi Pasar Modal Syariah

Kompas.com - 22/04/2018, 12:00 WIB
Justitia Tripurwasani - Director & Chief of Legal, Risk and Compliance Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) (kiri) bersama Friderica Widyasari Dewi - Ketua II Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) (kanan) saat penandatanganan kerja sama MAMI dan MES yang berlangsung di Jakarta, Jumat (20/4). MAMI dan MES bekerja sama untuk mengembangkan industri pasar modal syariah di Indonesia. Kerja sama ini diharapkan dapat mendorong tingkat penggunaan produk-produk pasar modal syariah dan dapat menghindarkan masyarakat dari investasi bodong. Dok. MAMIJustitia Tripurwasani - Director & Chief of Legal, Risk and Compliance Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) (kiri) bersama Friderica Widyasari Dewi - Ketua II Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) (kanan) saat penandatanganan kerja sama MAMI dan MES yang berlangsung di Jakarta, Jumat (20/4). MAMI dan MES bekerja sama untuk mengembangkan industri pasar modal syariah di Indonesia. Kerja sama ini diharapkan dapat mendorong tingkat penggunaan produk-produk pasar modal syariah dan dapat menghindarkan masyarakat dari investasi bodong.

JAKARTA, KOMPAS.com - Minimnya tingkat pengetahuan finansial membuat masyarakat terjebak pada jenis investasi bodong. Untuk itu, diperlukan upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk-produk pasar modal yang pengelolaannya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Dengan tujuan tersebut, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia ( MAMI) dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) meneken perjanjian kerja sama untuk mengembangkan industri pasar modal syariah di Indonesia pada Jumat (20/4/2018).

Dengan kerja sama ini diharapkan dapat mendorong tingkat penggunaan produk-produk pasar modal syariah dan dapat menghindarkan masyarakat dari investasi bodong.

Justitia Tripurwasani, Director & Chief of Legal, Risk, and Compliance Officer MAMI yang sekaligus menjabat sebagai Ketua UPIS (Unit Pengelolaan Investasi Syariah) MAMI mengatakan pasar modal syariah di Indonesia berpotensi untuk berkembang.

Salah satu sebabnya, Indonesia memiliki populasi muslim yang sangat besar, yaitu sekitar 87 persen. Tingkat kesejahteraan masyarakatnya pun semakin meningkat, sehingga secara perlahan mulai muncul kebutuhan untuk menyimpan maupun mengembangkan dananya di produk-produk yang dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Baca juga : BEI: Potensi Pasar Modal Syariah di Indonesia Masih Sangat Besar

"Namun sayangnya, karena minimnya tingkat pengetahuan finansial, masih ada saja anggota masyarakat kita yang terjebak investasi bodong, yang terkadang berkedok agama. Menghadapi kenyataan ini, kami menggandeng MES. Melalui kerja sama ini, kami harap masyarakat di lingkungan MES dan masyarakat umum dapat terhindar dari investasi bodong," kata dia melalui siaran pers.

Selain itu, melihat hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi pasar modal syariah di Indonesia hanya 0,02 persen dan tingkat inklusi atau penggunaannya hanya 0,01 persen. Angka ini sangat rendah.

"Kami pun berharap agar tingkat penggunaan produk pasar modal syariah, terutama reksa dana syariah, dapat meningkat. Reksa dana syariah merupakan produk investasi di pasar modal yang aman, terjangkau, dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, cukup dengan dana investasi minimum Rp 10 ribu,“ imbuh Justitia.

Friderica Widyasari Dewi, Ketua II Pengurus Pusat MES mengatakan, pihaknya menyambut baik kerja sama antara MES dan MAMI ini untuk bersama-sama berkontribusi aktif mendorong ekonomi dan keuangan syariah khususnya pasar modal syariah di Indonesia.

Salah satu tindak lanjut dari perjanjian kerja sama ini, MES dan MAMI akan mengadakan kegiatan literasi dan inklusi pasar modal syariah untuk pertama kalinya di Bekasi pada Sabtu, 21 April 2018, bertempat di Aula Pemerintah Kota Bekasi. Kegiatan edukasi ini terbuka luas bagi masyarakat umum dan para pengurus MES.

Baca juga : OJK: Regulasi Soal Unit Pengelolaan MIS Dorong Perkembangan Pasar Modal Syariah

Kompas TV Bank Syariah pertama di Indonesia, Bank Muamalat, membutuhkan tambahan modal Rp 4,5 Triliun.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X