Garuda Indonesia Diminta Kaji Ulang Rute Jakarta-London

Kompas.com - 22/04/2018, 12:45 WIB
ajaran staf perempuan yang bertugas untuk Kartini Flight, Garuda Indonesia, Sabtu (21/4/2018) KOMPAS.com / Silvita Agmasariajaran staf perempuan yang bertugas untuk Kartini Flight, Garuda Indonesia, Sabtu (21/4/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meminta PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk untuk meninjau ulang rute penerbangan Jakarta-London PP. Hal ini menimbang kerugian yang dihadapi dari rute yang dianggap kurang menguntungkan tersebut.

"Bu Menteri (Menteri BUMN Rini M Soemarno) minta untuk ditinjau (rute penerbangan) ke London," jelas Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Jasa Konsultasi Kementerian BUMN Gatot Trihargo di sela-sela acara ulang tahun PT Taspen (Persero) di Jakarta, Minggu (22/4/2018).

Gatot menjelaskan, rute penerbangan Jakarta-London PP yang dioperasikan oleh Garuda sebenarnya sudah dibuja sejak April 2017. Akan tetapi, Kementerian BUMN beranggapan, ketimbang merugi di rute luar negeri, akan lebih baik apabila Garuda mengoptimalkan rute domestik.

"Domestik itu pertumbuhan ekonominya luar biasa. Daerah timur itu 7-8 persen dibandingkan dengan average (rata-rata) pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Gatot.

Baca juga : Dengan Snack, Gugatan Penumpang ke Garuda soal Delay Pun Selesai

Ia mengungkapkan, Garuda bisa menukar 1 atau 2 rute internasional yang merugi dengan menambah rute di dalam negeri. Dengan demikian, dampak ekonominya akan lebih terasa di dalam negeri.

Gatot menuturkan, Kementerian BUMN juga meminta Garuda untuk mengefisienkan rute-rute lainnya. Selain itu, Garuda juga berencana menambah rute penerbangan internasional baru.

"Pak Pahala (Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury) merencanakan untuk (membuka rute) ke Turki, Istanbul," terang Gatot.

Peninjauan ulang rute penerbangan Garuda Jakarta-London salah satunya disebabkan pula keputusan maskapai asal Australia, Qantas untuk membuka rute penerbangan langsung London-Perth-Sydney. Rencana tersebut tak pelak memengaruhi kesempatan Garuda untuk meraup penumpang.

Baca juga : Garuda Indonesia: Tak Mungkin Lounge Ditutup Begitu Saja

Pada tahun lalu, jumlah penumpang Garuda rute Jakarta-London mencapai 35.000 orang. Sementara itu, jumlah penumpang rute London-Australia mencapai 350.000.

"Kita cuma 10 persen. Rata-rata yang ke Australia 350.000 orang, yang naik Garuda hanya 35.000. Kita ingin jadi stop over di sini, dapat slot premium, tapi kita tidak dapat premium," sebut Gatot.

Kompas TV Di tengah ancaman pelemahan daya beli pelaku usaha pariwisata memanfaatkan hausnya minat masyarakat akan liburan.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.