BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Schneider

Harus Optimistis, Indonesia Bisa Jadi Raksasa Dunia

Kompas.com - 23/04/2018, 13:18 WIB
Ilustrasi Indonesia SHUTTERSTOCKIlustrasi Indonesia
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Persaingan global semakin ketat. Negara yang tak mampu menangkap momentum niscaya hanya menjadi penonton.

Untuk diketahui, saat ini dunia menghadapi gelombang Revolusi Industri 4.0. Segala sesuatu menuju digitalisasi.

Pesan makanan bisa dilakukan secara daring, beli tiket konser juga tinggal klik, dan lain sebagainya.

Era Revolusi Industri 4.0 ditandai pula oleh perubahan di bidang ekonomi, bisnis, organisasi, dan pekerjaan. Kecerdasan buatan semakin mencuat. Data kian menjadi kebutuhan.

Negara yang lambat beradaptasi bisa terlibas persaingan. Alih-alih memetik keuntungan, mereka malah bisa terjungkal, ditandai karamnya bisnis-bisnis oleh gelombang perubahan eksponensial.

Salah satu indikator yang bisa dipakai mengukur derasnya digitalisasi adalah kebutuhan akan data.

Mengacu riset International Energy Agency, kebutuhan data pada 1987 hanya sebesar 2 terrabyte, kemudian terus berkembang hingga menjadi 1,1 zetabyte.

Ilustrasi data centerShutterstock Ilustrasi data center
Lantas di mana posisi Indonesia pada era digital saat ini?

Satu fakta tak terbantahkan adalah Indonesia merupakan negara berpenduduk terbesar ke-4 di dunia.

Indonesia memiliki sedikitnya 250 juta penduduk. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 persen merupakan kaum milenial produktif.

Itu menjadi modal kuat untuk menyalip negara maju lainnya, misalnya Jepang. Negara Sakura kini justru menghadapi tantangan piramida penduduk menua, usia produktifnya semakin berkurang.

“Dengan potensi generasi muda tersebut, Indonesia bisa menjadi 10 besar negara ekonomi terkuat dunia pada 2030,” ujar Country President Schneider Electric Indonesia Xavier Denoly dalam forum Innovation Summit 2018, di Jakarta, Rabu (18/4/2018).

Optimisme Xavier tersebut juga selaras dengan hasil riset sejumlah lembaga kenamaan dunia. Indonesia diyakini punya kekuatan besar menjadi negara maju.

Kekuatan generasi muda kreatif dan melek teknologi membuat Indonesia dapat melipatgandakan produk domestik brutonya. Ekonomi digital bisa semakin legit menyumbang pundi-pundi untuk negara.

Ilustrasi digitalSHUTTERSTOCK Ilustrasi digital
Kementerian Komunikasi dan Informatika memproyeksikan, pada 2020, ekonomi digital di Indonesia dapat tumbuh hingga 130 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.700 triliun) atau setara 20 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

"Potensi ekonomi digital Indonesia adalah daya tarik besar untuk para investor menanamkan modalnya di Indonesia," ujar Xavier.

Dengan optimisme para investor itulah roda perekonomian Tanah Air bisa semakin terdongkrak dan menyerap tenaga kerja baru.

Untuk tahun ini, Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa berada di angka 5,4 persen.

Dalam mencapai pertumbuhan tersebut, investasi adalah salah satu pilar utama penopangnya.

Bangun infrastruktur

Xavier melanjutkan, masifnya pembangunan infrastruktur juga merupakan modal krusial Indonesia menjadi raksasa ekonomi dunia.

Infrastruktur dipandang dapat meningkatkan konektivitas antarwilayah kepulauan Indonesia.

Dengan begitu, pemerataan pembangunan lebih cepat terjadi dan berujung pada pertumbuhan ekonomi.

"Pembangunan pelabuhan, bandara, dan jalan terus didorong oleh Pemerintah Indonesia. Itu adalah wujud ambisi Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia pada 2030," papar Xavier.

Saat ini, imbuh Xavier, Indonesia juga tengah membangun proyek 35.000 megawatt untuk pembangkit listrik demi pemerataan energi hingga pelosok.

Executive Vice President International Operation Schneider Electric Luc Remont menambahkan, pemerataan energi adalah salah satu aspek penting untuk mendukung perekonomian Indonesia.

Terlebih lagi, ujar Remont, dalam kurun waktu 20 tahun ke depan, kebutuhan energi di dunia bisa mencapai dua kali lipat kebutuhan saat ini.

"Geliat digital tentunya memerlukan energi yang lebih besar pula. Di sisi lain, tantangan efisiensi energi justru semakin mengemuka," tuturnya.

Suasana Innovation Summit 2018 Schneider Electric di Jakarta, Rabu (18/4/2018).KOMPAS.com/HARIS PRAHARA Suasana Innovation Summit 2018 Schneider Electric di Jakarta, Rabu (18/4/2018).
Menyadari kondisi itulah, lanjut dia, Schneider Electric terus berupaya mengembangkan teknologi demi mendukung efisiensi energi. Misalnya melalui EcoStruxure.

Sekadar informasi, EcoStruxure adalah teknologi manajemen energi berbasis digital yang dapat diterapkan dalam berbagai sektor, seperti pengelolaan gedung, pusat data, dan lain sebagainya.

"Pada akhirnya, dunia akan semakin digital dan Indonesia punya potensi kuat untuk keluar sebagai pemenang persaingan global," tuntas Remont.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya