Struktur Ekonomi Indonesia Mampu Tahan Pelemahan Rupiah

Kompas.com - 25/04/2018, 16:48 WIB
Petugas memeriksa kondisi lembaran Dollar AS yang akan dijual di tempat penukaran valuta asing. KOMPAS/PRIYOMBODOPetugas memeriksa kondisi lembaran Dollar AS yang akan dijual di tempat penukaran valuta asing.

SEMARANG, KOMPAS.com - Beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dollar AS. Pelemahan tersebut lebih disebabkan faktor eksternal, yakni kondisi perekonomian di AS yang membaik secara signifikan.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Firman Mochtar menjelaskan, pelemahan nilai tukar disebabkan perkembangan ekonomi global, khususnya di AS. Pelemahan tidak hanya dialami oleh rupiah, melainkan juga mata uang negara-negara berkembang lainnya.

"Ada persepsi kebijakan moneter AS akan lebih ketat mengikuti perkembangan indikator ekonomi yang semakin baik," kata Firman dalam diskusi Diseminasi Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2017 di Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah di Semarang, Rabu (25/4/2018).

Firman menjelaskan, kondisi indikator ekonomi AS yang membaik tersebut antara lain terlihat dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan angka pengangguran. Segala indikator tersebut menimbulkan persepsi pasar bahwa kebijakan moneter AS akan semakin agresif.

Baca juga: Ini Penjelasan Bos Mandiri soal Pelemahan Rupiah yang Sampai Rp 13.900 per Dollar AS

Menurut Firman, pelemahan yang terjadi pada rupiah cenderung lebih baik ketimbang yang terjadi di negara-negara berkembang lainnya. Ia mengungkapkan, sepanjang bulan April 2018, rupiah melemah 0,90 persen.

Kondisi ini lebih baik dibandingkan misalnya mata uang baht Thailand yang melemah sekira 1 persen, rupee India yang melemah sekitar 2 persen, dan ringgit Malaysia yang melemah 2,8 persen. Adapun mata uang lira Turki melemah 3,3 persen.

Sejak awal tahun 2018, nilai tukar rupiah terdepresiasi 2,3 persen. Ini pun lebih baik ketimbang mata uang real Brazil yang melemah sekira 3 persen, rupee India yang melemah sekitar 4 persen, peso Filipina 4,5 persen, dan bahkan lira Turki yang melemah 7,2 persen.

Firman menyebut, pelemahan nilai tukar rupiah yang tidak setajam sejumlah mata uang negara berkembang lainnya disebabkan kuatnya struktur perekonomian Indonesia. Beberapa investor pun memiliki pandangan yang sama.

"Kondisi ini tidak lepas dari capaian kita menjaga stabilitas dan struktur ekonomi yang lebih baik, sehingga mampu menahan rupiah," ucap Firman.

Hal ini tercermin dari capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik dan solid, inflasi terjaga, hingga sistem keuangan dan perbankan yang baik. Kondisi-kondisi tersebut mampu menahan secara natural terhadap tekanan pada rupiah.

Bank sentral sebut Firman, pun selalu berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

IHSG Menguat Pada Penutupan Sesi I Perdagangan, Rupiah Melemah

IHSG Menguat Pada Penutupan Sesi I Perdagangan, Rupiah Melemah

Whats New
Bundamedik Catat Pendapatan Rp 1,7 Triliun pada 2021

Bundamedik Catat Pendapatan Rp 1,7 Triliun pada 2021

Rilis
OJK Terbitkan Peraturan Baru tentang Perlindungan Konsumen

OJK Terbitkan Peraturan Baru tentang Perlindungan Konsumen

Whats New
Quantitative Easing, Taper Tantrum dan Ekonomi Indonesia

Quantitative Easing, Taper Tantrum dan Ekonomi Indonesia

Whats New
Pembangunan Capai 98 Persen, Pasar Sibolga Nauli Ditargetkan Beroperasi Juni 2022

Pembangunan Capai 98 Persen, Pasar Sibolga Nauli Ditargetkan Beroperasi Juni 2022

Whats New
Serikat Pekerja Laporkan Dunkin' Donuts ke Menaker karena Tak Bayar THR dan Upah Pekerja yang Dirumahkan

Serikat Pekerja Laporkan Dunkin' Donuts ke Menaker karena Tak Bayar THR dan Upah Pekerja yang Dirumahkan

Whats New
BEI Sebut Tidak Ada Penundaan IPO di Tengah Kondisi Pasar yang Bergejolak

BEI Sebut Tidak Ada Penundaan IPO di Tengah Kondisi Pasar yang Bergejolak

Whats New
Daftar Lengkap Harga Minyak Goreng di Indomaret & Alfamart, 3 Minggu Usai Jokowi Larang Ekspor CPO

Daftar Lengkap Harga Minyak Goreng di Indomaret & Alfamart, 3 Minggu Usai Jokowi Larang Ekspor CPO

Spend Smart
Nasabah Belum Puas dengan BPA Bumiputera yang Terpilih

Nasabah Belum Puas dengan BPA Bumiputera yang Terpilih

Whats New
Cara Menghapus Akun Tokopedia di HP, Apakah Bisa Ditutup Permanen?

Cara Menghapus Akun Tokopedia di HP, Apakah Bisa Ditutup Permanen?

Spend Smart
Pinjaman Fintech Lending ke UMKM Capai Rp 13,2 Triliun

Pinjaman Fintech Lending ke UMKM Capai Rp 13,2 Triliun

Whats New
5 Tips Lolos TKD dan Core Values Rekrutmen Bersama BUMN 2022

5 Tips Lolos TKD dan Core Values Rekrutmen Bersama BUMN 2022

Whats New
Harga Emas Antam Turun Rp 3.000 Per Gram Hari Ini, Simak Rinciannya

Harga Emas Antam Turun Rp 3.000 Per Gram Hari Ini, Simak Rinciannya

Earn Smart
Syarat, Prosedur, dan Biaya Mutasi Mobil

Syarat, Prosedur, dan Biaya Mutasi Mobil

Spend Smart
Beroperasi 2024, Jalan Tol Serang-Panimbang Permudah Akses Wisata ke Tanjung Lesung

Beroperasi 2024, Jalan Tol Serang-Panimbang Permudah Akses Wisata ke Tanjung Lesung

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.