Fluktuasi Rupiah dan Dampaknya Terhadap Kinerja Reksa Dana - Kompas.com

Fluktuasi Rupiah dan Dampaknya Terhadap Kinerja Reksa Dana

Kompas.com - 27/04/2018, 08:00 WIB
Ilustrasi investasi Thinkstock Ilustrasi investasi

Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga obligasi selama beberapa ini menjadi perhatian media dan masyarakat. Penurunan ini berdampak pada menurunnya Nilai Aktiva Bersih Per Unit Penyertaan (NAB per UP) kinerja reksa dana baik yang berbasis saham maupun pendapatan tetap.

Entah kebetulan atau tidak, penurunan ini berbarengan dengan menguat nilai tukar dollar AS  terhadap rupiah, di mana beberapa kali sempat mendekati Rp 14.000 per dollar AS.

Apakah penguatan nilai tukar ini menjadi penyebab menurunnya kinerja reksa dana sehingga perlu diwaspadai ke depannya?

Untuk mengetahui hal tersebut, perlu dilakukan penelitian terhadap data historis untuk nilai tukar, kinerja saham dan kinerja obligasi pemerintah dari tahun 2002 hingga 25 April 2018.

Kinerja saham menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai indikator dan kinerja obligasi menggunakan Infovesta Government Bond Index yang merepresentasikan perubahan harga dan kupon obligasi pemerintah sebagai indikator

Hasilnya sebagai berikut :

Bank Indonesia, Infovestas.com, diolah Rupiah Reksa Dana
 
Terkadang pemberitaan media untuk nilai tukar memang tidak seragam. Misalkan ketika nilai tukar berubah dari Rp 13.500 menjadi Rp 13.800, ada media yang menggunakan “Rupiah Anjlok” sebagai judul, ada pula yang menggunakan “USD Menguat”.

Judul yang pertama memang lebih menarik untuk dibaca, namun bisa pula menimbulkan persepsi negatif.

Untuk itu, definisi yang digunakan disini adalah "rupiah menguat" dan "dollar AS menguat".

Yang dimaksud dengan definisi rupiah menguat adalah ketika Kurs Tengah BI untuk rupiah terhadap dollar AS lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara yang dimaksud dengan dollar AS menguat adalah kondisi ketika di mana nilai Kurs Tengah BI untuk Rp terhadap dollar AS lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data dari tahun 2002 hingga 2017 (15 tahun), tercapat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mengalami penguatan sebanyak 5 kali dan USD mengalami penguatan sebanyak 10 kali.

Dalam 5 kali penguatan rupiah terhadap USD yaitu tahun  2003, 2006, 2009, 2010 dan 2016,  tercatat kinerja saham dan obligasi selalu positif. Dengan kata lain, mengacu ke data historis, ketika rupiah menguat, biasanya kinerja saham dan obligasi juga ikut naik sehingga bisa menjadi sentimen positif untuk investasi ke reksa dana.

Kemudian, dalam 10 kali penguatan USD terhadap Rp yaitu tahun  2003 - 2004, 2007 – 2008, 2011 – 2015,  dan 2017 tidak ada pola yang pasti terhadap kinerja IHSG dan Obligasi. Ada tahun-tahun dimana dollar AS menguat, baik IHSG dan obligasi sama-sama mengalami kinerja positif, tapi ada juga tahun-tahun keduanya mengalami kinerja negatif seperti tahun 2008 dan 2013.

Berdasarkan data historis, dapat disimpulkan bahwa ketika dollar AS menguat, pengaruhnya terhadap kinerja saham dan obligasi tidak memiliki pola tertentu. Dengan kata lain, menguatnya nilai tukar dollar AS terhadap rupiah dari awal tahun sekitar 13.500 ke saat ini sekitar 13.900 “bukanlah” penyebab menurunnya kinerja saham dan obligasi.

Memang hingga per tanggal 25 April 2018, kinerja saham dan obligasi masih negatif, namun mengingat waktu menuju bulan Desember masih cukup panjang dan bisa saja mengalami perubahan.

Pelemahan harga saham dan obligasi saat ini lebih dipengaruhi karena pasar masih melakukan penyesuaian terhadap kebijakan suku bunga AS, dimana tadinya pasar memperkirakan bunga AS akan naik 3 kali, namun karena bisa menjadi 4 kali berdasarkan perkembangan data ekonomi terbaru.

Pernyataan dari Gubernur Bank Indonesia terhadap kebijakan suku bunga juga sangat ditunggu-tunggu pelaku pasar untuk mengetahui arahan dari bank sentral menghadapi fluktuasi nilai tukar ke depan. Apakah akan menaikkan suku bunga atau melakukan upaya lainnya.

Karena sifatnya hanya berdasarkan even tertentu yang sifatnya sesaat, biasanya arah pasar dapat berubah dengan cepat. Entah itu berbalik arah menguat atau mengalami penurunan lebih lanjut.

Yang jelas, untuk tahun 2018, target inflasi pemerintah kelihatannya masih akan bisa tercapai dengan catatan tidak ada kenaikan yang signifikan pada tariff listrik dan bahan bakar minyak. Jika target inflasi dapat tercapai seharusnya akan positif terhadap kinerja obligasi.

Untuk kinerja perusahaan yang mencerminkan fundamental, sejauh ini baru sebagian yang mempublikasikan laporan keuangannya. Ada perusahaan yang membukukan kenaikan penjualan dan laba, ada pula yang stagnan atau mengalami penurunan. Namun sejauh ini belum ada yang turun signifikan atau rugi, sehingga semakin rendah harga saham turun, maka semakin murah juga valuasinya.

Valuasi saham yang murah akan menjadi investasi saham di Indonesia menjadi semakin menarik bagi investor asing sehingga berpotensi membuat dana asing kembali masuk ke pasar saham ke depannya.

Yang harus diperhatikan adalah bahwa investasi reksa dana mengandung risiko. Dalam menghadapi kondisi fluktuasi, investor perlu fokus pada tujuan dan rencana investasi jangka panjang, melakukan diversifikasi dan atau investasi berkala untuk mengurangi risiko, dan yang paling penting memiliki kesiapan hati menghadapi kondisi yang terjadi.


Keputusan investasi yang dilakukan dalam kondisi panik hanya akan lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Untuk itu, investor tidak perlu panik dan malahan dapat memanfaatkan momentum ini untuk mendapatkan investasi pada valuasi yang relatif murah.

Demikian, semoga artikel ini bermanfaat.

Komentar
Close Ads X