Rhenald Kasali
Guru Besar Manajemen

Akademisi dan praktisi bisnis yang juga guru besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sejumlah buku telah dituliskannya antara lain Sembilan Fenomena Bisnis (1997), Change! (2005), Recode Your Change DNA (2007), Disruptions, Tommorow Is Today, Self Disruption dan The Great Shifting. Atas buku-buku yang ditulisnya, Rhenald Kasali mendapat penghargaan Writer of The Year 2018 dari Ikapi

Efek Disrupsi, Mungkinkah Kembali ke Desa?

Kompas.com - 30/04/2018, 06:00 WIB
Obyek wisata Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (14/11/2017). Kompas.com/Labib ZamaniObyek wisata Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (14/11/2017).

Saya baru saja meninggalkan kawasan pedesaan yang dipenuhi kebun-kebun anggur yang indah di Tuscany, Italia. Kawasan seperti ini tiba-tiba menjadi lapangan kerja baru, menyusul upaya Uni Eropa untuk kembali ke desa.

Menyeberang ke Porto, guide saya, calon dokter dari Lisbon bercerita tentang mundurnya perekonomian dan lapangan pekerjaan di Portugal. Sambil menarik nafas dalam, ia menyampaikan, kekasihnya harus pindah ke Brazil untuk mendapatkan pekerjaan.

“Di Portugal..” ujarnya. “Lebih dari 40 persen kaum muda sudah pindah untuk bekerja ke luar negeri,” tambahnya. Itu sebabnya, Uni Eropa sudah berkomitmen menyalurkan 100 miliar Euro dana desa selama 6 tahun (2014-2020) untuk membangun pertanian dan ekologi,

Kembali ke Desa

Tetapi Indonesia lebih serius. Memang bukan karena ancaman disrupsi, tapi hampir pasti disruption akan memasuki tahap transisi sehingga ada banyak pekerjaan di kota yang hilang. Bila EU hanya fokus pada 118 titik, Indonesia membidik 77.000 desa.

Tetapi eforia terhadap kota memang tak dapat dihindari. Sebanyak tiga perempat penduduk Asia diketahui akan berpindah ke kota. Dan sebanyak 8 dari 10 kota yang berpenduduk diatas 23 juta orang berada di Asia. Dua teratasnya adalah Tokyo dan Jakarta.

China memiliki lima belas dari total 46 megacity di dunia sedangkan Amerika Serikat hanya 2, yaitu New York dan Los Angeles.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tetapi kini dunia sepertinya tengah disadarkan untuk kembali ke desa, sebab hanya di sanalah ada pangan dan udara segar. Dan Indonesia, dengan dana desa dan BUMDES-nya berada di garis depan. Tidak mengherankan bila saat ini sejumlah negara sudah disarankan badan-badan dunia melakukan studi banding ke sini.

Walaupun kita sendiri masih merasa banyak yang belum. Masih banyak jalan di desa yang belum terhubung meski sudah 121.000 kilometer yang dibangun. Lalu 82.000 lebih MCK dan 5.000 tambatan perahu.

Indonesia konsisten membangun desa dan membawa kaum muda yang masih produktif untuk berkarya di desa.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.