Rhenald Kasali
Guru Besar Manajemen

Akademisi dan praktisi bisnis yang juga guru besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sejumlah buku telah dituliskannya antara lain Sembilan Fenomena Bisnis (1997), Change! (2005), Recode Your Change DNA (2007), Disruptions, Tommorow Is Today, Self Disruption dan The Great Shifting. Atas buku-buku yang ditulisnya, Rhenald Kasali mendapat penghargaan Writer of The Year 2018 dari Ikapi

Efek Disrupsi, Mungkinkah Kembali ke Desa?

Kompas.com - 30/04/2018, 06:00 WIB
Obyek wisata Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (14/11/2017). Kompas.com/Labib ZamaniObyek wisata Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (14/11/2017).

Berkarya apa? Bisnis online yang kini jadi andalan kaum muda perkotaan itu tentu ada batasnya. Ketika internet memotret gaya hidup baru dan mendekatkan manusia, maka ribuan produk konsumsi yang kita kenal pun akan menjadi barang inferior. Artinya, peningkatan pendapatan justru bisa membuat permintaan produk-produk tertentu menjadi barang inferior dan turun.

Artinya terjadi shifting besar-besaran yang berakibat banyak pekerjaan hilang. Tak pernah terbayangkan cokelat buatan Mayora bisa menjadi inferior goods karena konsumen yang pendapatannya naik malah memilih menabung lebih banyak supaya bisa berkunjung ke Umbul Ponggok di Klaten, menjalankan ibadah umroh atau melihat tembok raksaksa di Tiongkok.

Bisa dibayangkan bila pekerjaan-pekerjaan yang biasa “menarik” kaum muda itu terdisrupsi.

Beruntung di sini, semenjak Undang-Undang Desa disahkan pada (2014), pemerintah Indonesia menggenjot pembangunan di desa. Lihat saja, dana desa yang didistribusikan sejak 2015 sudah mencapai sekitar Rp 120 triliun. Memang sampai tahun lalu dana desa itu sulit dipakai untuk pengentasan kemiskinan karena ada ketentuan pengadaan yang melaras swakelola.

Tetapi, saya senang bahwa Ppresiden dan menterinya bekerja cepat. Melalui SKB 4 menteri, 30 persen dari dana desa itu kini bisa dipakai untuk program padat karya tunai. Jadi kini tak perlu lagi menggunakan kontraktor dari luar desa. Artinya dana dipakai oleh orang desa dengan tenaga masyarakat desa. Artinya perputaran uang akan lebih banyak lagi terjadi di desa.

Peran Offtaker

Beberapa waktu yang lalu saya diundang Eko Putro Sandjojo, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi juga untuk melihat desa-desa di Sumba Timur.

Dari bandara Halim Perdana Kusuma, saya ditemui oleh CEO PT Muria Sumber Manis, Iwan Suhardjo yang menjadi lokomotifnya

Kebetulan Sdr. Iwan pernah menjadi mahasiswa saya. “Dari akuntansi ke marketing lalu ke pertanian” ujarnya.

Iwan bukanlah orang pertama yang saya temui dan bisa belajar hal-hal baru. Makanya para pendidik perlu melakukan shifting, dari mengajar “what to learn” menjadi “how to learn”. Dan itulah yang dari dulu saya lakukan.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.