Harga Beras Turun Berkat Panen Raya, Inflasi April 0,1 Persen

Kompas.com - 02/05/2018, 11:59 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Yunita Rusanti dan Deputi Bidang Statistik Produksi M Habibullah saat menggelar konferensi pers di kantor Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta Pusat, Rabu (2/5/2018). KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERADeputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Yunita Rusanti dan Deputi Bidang Statistik Produksi M Habibullah saat menggelar konferensi pers di kantor Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta Pusat, Rabu (2/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik ( BPS) mencatat inflasi bulan April 2018 sebesar 0,1 persen. Faktor utama yang mendorong terjadinya inflasi 0,1 persen itu adalah ketersediaan beras dan stabilnya harga di pasar sebagai dampak dari panen raya bulan lalu.

"Secara umum, inflasi April masih terkendali dan cukup rendah karena dipengaruhi oleh panen raya," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Yunita Rusanti melalui konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Rabu (2/5/2018).

Yunita menuturkan, inflasi tahun kalender, yakni April 2018 terhadap Desember 2017 tercatat sebesar 1,09 persen serta inflasi dari tahun ke tahun (year on year) sebesar 3,41 persen.

Dari total 82 kota untuk Indeks Harga Konsumen (IHK), 54 di antaranya mengalami inflasi dan 28 selebihnya deflasi.

Adapun inflasi 0,1 persen menurut kelompok pengeluaran disumbang oleh kelompok bahan makanan sebesar minus 0,26 persen dengan andil minus 0,05 persen atau dengan kata lain deflasi.

Bahan makanan yang deflasi lebih dipengaruhi turunnya harga beras, di mana komoditas tersebut memberikan andil deflasi sebesar 0,08 persen, juga ikan segar dengan andil deflasi 0,03 persen dan cabai merah 0,03 persen.

Meski begitu, masih ada komoditas yang mengalami inflasi pada kelompok pengeluaran bahan makanan, yaitu bawang merah dengan andil 0,07 persen dan daging ayam ras dengan andil 0,03 persen. Untuk inflasi pada kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar disumbang oleh kontrak rumah dengan andil 0,02 persen.

Pada kelompok pengeluaran sandang, inflasi disumbang oleh emas perhiasan dengan andil 0,01 persen. Lalu inflasi untuk kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan banyak disumbang oleh bensin dengan andil 0,03 persen, didorong oleh kenaikan harga bahan bakar minyak jenis Pertalite.

"Utamanya dipengaruhi kenaikan harga pertalite yang terjadi mulai 24 Maret. Sisa tiga minggu tercermin di bulan Aprilnya," tutur Yunita.

Inflasi April dilihat berdasarkan komponennya disumbang oleh komponen inti sebesar 0,15 persen dengan andil 0,1 persen; komponen harga diatur pemerintah sebesar 0,24 persen dengan andil 0,05 persen; komponen harga bergejolak minus 0,29 persen dengan andil minus 0,05 persen. Untuk komponen energi, menyumbang 0,3 persen dengan andil 0,03 persen terhadap inflasi April.

Inflasi April 2018 terhitung masih lebih tinggi dibanding April 2017 sebesar 0,09 persen. Dari kawasan, inflasi tertinggi ada di Merauke (1,32 persen), terendah di Padang dan Kudus (0,01 persen). Sedangkan deflasi tertinggi ada di Tual (2,26 persen) dan terendah di Medan, Bandar Lampung, serta Tegal (0,01 persen).

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X