Kadin: Tenaga Kerja Asing Masuk Indonesia Harus Punya "Skill"

Kompas.com - 02/05/2018, 15:56 WIB
Para Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China yang tidak memiliki dokumen keimigrasian saat diamankan di Mako Ditpolair Polda Kalbar (2/10/2017) Dok. Ditpolair Polda KalbarPara Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China yang tidak memiliki dokumen keimigrasian saat diamankan di Mako Ditpolair Polda Kalbar (2/10/2017)


JAKARTA, KOMPAS.com
—Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Konstruksi dan Infrastruktur, Erwin Aksa mengaku tak mempermasalahkan masuknya tenaga kerja asing (TKA) ke Indonesia, selama tidak berarti TKA serta-merta sembarangan bekerja di sini.

"Pengusaha Indonesia membutuhkan TKA yang memiliki skill untuk ditempatkan di posisi tertentu. Baru menjadi masalah jika para TKA ini adalah dari un-skill labors," ujar Erwin di Menara Kadin Indonesia, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (2/5/2018).

Erwin mengatakan, sebaiknya tenaga kerja asing ditempatkan di posisi di mana tenaga kerja Indonesia tak memiliki kemampuan di situ. Selain itu, dia mengaku mewaspadai fakta bahwa sebagian besar TKA yang masuk ke Indonesia ternyata tidak memiliki keterampilan.

Baca juga: Pemerintah Diminta Perketat Pengawasan Tenaga Kerja Asing

"Jika memang ada sinyalemen dengan sangat banyaknya TKA ilegal, inilah yang tidak boleh ada dan mesti ditertibkan di Indonesia," kata Erwin.

Erwin menambahkan, Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing menyebutkan pula soal kemudahan TKA masuk ke Indonesia.

Ia berharap, jangan sampai kemudahan itu justru melonggarkan pengawasan terhadap TKA sehingga makin banyak gelombang pekerja asing ke Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Yang benar adalah yang bekerja untuk added value untuk Indonesia, bukan pekerja kasar dan mereka kerja yang harusnya dikerjakan tenaga kerja Indonesia tapi dikerjakan TKA. Kita harus hati-hati," kata Erwin.

Erwin meminta pemerintah lebih merinci siapa saja TKA yang bisa bekerja di Indonesia. Tak bisa dipungkiri, bangsa ini memerlukan investor untuk membantu pembangunan di bidang infrastruktur.

Sering kali, lanjut Erwin, mereka berusaha mendapat profit maksimal dengan mengusahakan penggunaan sumber daya dari negara asalnya, termasuk tenaga kerja. 

"Tidak semua TKA jelek. Kita sering butuh TKA untuk mengerjakan perbaikan mesin tertentu. Tapi mereka sering kali terganjal visa dan lain-lain," kata Erwin.

Di sisi lain, kata Erwin, jika penggunaan tenaga kerja asing terlalu longgar maka bisa menimbulkan permasalahan besar di kemudian hari.

"Ini memang harus dilakukan kerja sama antara asosiasi tenaga kerja ahli di China dan di sini," kata Erwin.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.