"Kalau Fundamental Baik, Ya Rupiah Perkasa..." - Kompas.com

"Kalau Fundamental Baik, Ya Rupiah Perkasa..."

Kompas.com - 03/05/2018, 05:08 WIB
Ekonom senior Institute for Development for Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri saat diskusi dengan media di Kantor INDEF, Jakarta, Rabu (21/3/2018).KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDO JULIANTO Ekonom senior Institute for Development for Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri saat diskusi dengan media di Kantor INDEF, Jakarta, Rabu (21/3/2018).

BADUNG, KOMPAS.com — Ekonom senior Faisal Basri meminta pemerintah berhenti menyalahkan faktor eksternal terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Mata uang garuda ini berada di kisaran level Rp 13.900 per dollar AS, yang merupakan terendah sejak awal 2016.

"Jangan menyalahkan eksternal, eksternal itu selalu ada, wong kita itu negara terbuka. Tapi mengapa negara lain lebih baik daripada negara kita? Sebab, daya tahannya lebih baik," ujarnya di sela-sela menjadi pembicara di APMF 2018, di Bali Nusa Dua Convention Center, Badung, Bali, Rabu (2/5/2018).

Faisal menilai, secara fundamental, ekonomi Indonesia memang tidak baik karena sudah puluhan tahun rupiah konsisten melemah terhadap dollar AS. Di mencontohkan, tahun 2011 rupiah masih di kisaran Rp 8.000 per dollar AS, tetapi saat ini sudah mendekati level 14.000.

"Kalau fundamental baik, ya rupiah perkasa," ujarnya.

Baca juga: Presiden Jokowi Tak Khawatir Rupiah Hampir Tembus Rp 14.000 Per Dollar AS

Dia menilai, daya tahan Indonesia memang tidak baik. Faisal menyebutkan, mulai dari tiga bulan berturut-turut neraca perdagangan Indonesia sempat defisit. Neraca perdagangan baru surplus pada Februari 2018 sebesar 200 juta dollar AS.

Kemudian juga, current account (selisih nilai setiap ekspor dan impor termasuk jasa dan barang) yang defisitnya terus bertambah.

Hal lain yang ikut merongrong daya tahan ekonomi Indonesia adalah defisitnya minyak Indonesia. Pada tahun 2017, lebih besarnya impor minyak daripada ekspor membuat defisit hingga 14,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 195,99 triliun (kurs Rp 13.900 per dollar AS).

"Januari tahun ini saja sudah 4,5 miliar dollar AS defisit akibat impor minyak. Padahal, harga minyak juga sudah sembilan bulan ini naik terus. Orang, kan, mikir, Indonesia itu net importer minyak, kalau minyak naik pasti indonesia goyang, ini fakta," katanya.

"Akibatnya apa, rongrongan dari faktor eksternal itu menyebabkan kita semakin rentan karena semakin banyak juga utang pemerintah dalam dollar AS. semakin banyak SUN (surat utang negara) yang dipegang oleh asing," tambah dia.


Kompas TV Bank Indonesia punya dua instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah di luar cadangan devisa.


Close Ads X