Depresiasi Rupiah Terhadap Dollar Pengaruhi Pertumbuhan UMKM - Kompas.com

Depresiasi Rupiah Terhadap Dollar Pengaruhi Pertumbuhan UMKM

Kompas.com - 06/05/2018, 08:02 WIB
Ilustrasi rupiahThinkstockphotos.com Ilustrasi rupiah

KOMPAS.com - Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat belakangan ini membawa dampak pada perekonomian Indonesia.

Per Jumat (4/5/2018), nilai tukarnya mencapai Rp 13.890. Depresiasi Rupiah terhadap Dollar membawa dampak bagi para pelaku usaha di Indonesia, salah satunya UMKM.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karina Saputri mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar juga memengaruhi UMKM, terutama UMKM yang menggunakan bahan baku impor.

Kondisi ini akan mengakibatkan semakin mahalnya bahan baku produksi. Kalau pada sebelumnya pengusaha dapat membeli dengan harga sekian dollar dalam sekian rupiah, kini mereka harus mengeluarkan rupiah yang lebih untuk nilai bahan baku yang sama.

Baca juga : Pelemahan Rupiah Bakal Pengaruhi Suku Bunga KPR

Menurut Novani, kondisi pelemahan Rupiah ini dapat berdampak secara langsung maupun tidak langsung terutama terhadap kondisi profit margin. Pelemahan rupiah akan meningkatnya inflasi terutama pada bahan pangan sehingga akan menurunkan daya beli masyarakat.

"Penurunan daya beli masyarakat dihadapkan dengan biaya produksi yang semakin tinggi untuk produsen berbahan baku impor, logikanya akan menurunkan profit mereka,” jelas Novani.

Kondisi ini juga akan dirasakan oleh UMKM yang kegiatan produksinya tidak menggunakan berbahan baku impor.

Meskipun biaya produksi tidak meningkat, pelaku UMKM tidak mampu mengontrol penurunan daya beli konsumen yang terjadi akibat meningkatnya harga barang – barang lainnya.

Belum lagi apabila modal UMKM berasal dari pinjaman yang sangat terikat pada kondisi suku bunga pinjaman yang rawan terhadap kondisi makro.

Kalau kondisi ini dibiarkan, atau tidak diselesaikan secara tepat, tidak menutup kemungkinan akan banyak UMKM yang gulung tikar atau berhenti berproduksi.

Baca juga : BI: Kalaupun Kurs Rupiah Tembus Rp 14.000, Jangan Terlalu Khawatir

Hal ini pasti akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan berisiko meningkatkan angka pengangguran.

Berdasarkan informasi dari Kementerian Koperasi dan UMKM, hingga saat ini tercatat penurunan omzet rata – rata 15 persen untuk UMKM yang berbasis bahan produksi impor.

Dengan semakin mahalnya harga bahan pokok yang tidak dibarengi dengan peningkatan penghasilan, lanjut Novani, otomatis akan menurunkan daya beli masyarakat.

UMKM terkadang tidak akan menaikan harga guna menjaga nilai penjualan, tetapi mau tidak mau akan berdampak pada penurunan profit margin mereka.

Pemerintah harus mampu mengidentifikasi kendala apa saja yang dihadapi oleh pelaku UMKM. Beberapa hal yang sering menjadi kendala UMKM adalah penguasaan teknologi dan akses pasar serta permodalan. Persoalan permodalan masih menjadi persoalan utama yang sering dihadapi oleh rata – rata UMKM di Indonesia.

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah seharusnya fokus untuk mempermudah akses pinjaman secara merata dan terus menyediakan fasilitas pinjaman usaha dengan bunga yang rendah untuk mempertahankan kinerja dan produktifitas UMKM ditengah guncangan pelemahan nilai mata uang saat ini, seperti melalui KUR.

Namun Novani menambahkan, sebenarnya ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh UMKM dalam kondisi ini. Melemahnya Rupiah terhadap Dollar akan menyebabkan harga barang impor semakin mahal.

UMKM bisa memperkuat daya saingnya dengan produk impor dengan meningkatkan produktivitas dan ekspor produknya.

“Untuk mendukung tumbuhnya UMKM, terutama dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini, pemerintah perlu melakukan beberapa hal, di antaranya adalah mengontrol nilai inflasi. Hal lain yang perlu dilakukan adalah dengan menjaga suku bunga kredit, khususnya untuk KUR,” tuturnya.

Kompas TV Pelemahan nilai tukar rupiah masih menimbulkan kekhawatiran, terutama dampak pada utang luar negeri yang harus dibayar tahun ini. 



Close Ads X