Media Sosial dan Semangat Millenial 4.0

Kompas.com - 07/05/2018, 11:25 WIB
Ilustrasi media sosialTHINKSTOCKS/NICO ELNINO Ilustrasi media sosial

Bocornya data Facebook inilah yang menjadi ironi dan lubang gelap media sosial. Kegelisahan yang senada juga terjadi di Indonesia, dengan ancaman dari kebocoran data-data media sosial untuk kepentingan kontestasi politik.

Baca juga: Ketika Media Sosial Menjadi ?Agama? dan ?Kitab Suci? Baru

Induk perusahaan Cambridge Analityca, Strategic Laboratories Group (SCL) disebut telah mempengaruhi proses pemilu di 40 negara, termasuk Indonesia.

Dari data yang dilansir Facebook, kebocoran data tertinggi di Amerika Serikat, sebanyak 70.632.350 akun (81,6 persen), selanjutnya, di Filipina 1.175.860 akun (1,4 persen), Indonesia 1.096.666 akun (1,3 persen), Inggris 1.079 .031 akun (1,2  persen) dan Meksiko 789.880 akun (0,9 persen).

Kebocoran data Facebook juga meluas ke Canada, India, Brasil, Vietnam, dan Australia.

Menanggapi badai teknologi ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melayangkan Surat Peringatan tertulis kedua (SP II) kepada perusahaan Facebook pada 10 April 2018.

Surat peringatan ini merupakan tindak lanjut Surat Peringatan I, yang telah dilayangkan Kominfo pada Facebook pada 5 April 2018 terkait kebocoran data pengguna di Indonesia.

Menurut Kominfo, Facebook telah memberikan keterangan resmi atas tiga surat yang telah dikirimkan Kominfo terkait kebocoran data. Namun, keterangan pihak Facebook masih dianggap kurang memadai.

Menuju citizen 4.0

Pengguna internet di Indonesia adalah terbesar ke-4 di Asia. Dari riset internet World Stats pada 2016, pengakses teknologi internet di negeri ini berjumlah sekitar 78 juta.

Adapun penetrasi atau rasio pengguna internet di Indonesia ditaksir sekitar 30,5 persen. Di kawasan Asia, pengguna internet terbesar yakni Cina (674 juta/49,5 persen populasi), India (375 juta/30 persen), Jepang (115 juta/90,6 persen), dan kemudian Indonesia.

Di bawah Indonesia, negara-negara berkembang mengikuti penetrasi dan pertumbuhan teknologi internet, yaitu Bangladesh (53,9 juta), Vietnam (47,3 juta), Filipina (47,1 juta) , Korea Selatan (45,3 juta), Thailand (38 juta) dan Pakistan (29,1 juta).

Data ini sejalan dengan perkembangan pengguna teknologi internet yang masif di Asia yang mencapai 4 miliar, dengan penetrasi 40,2 persen. Perkembangan signifikan akan menjadi peluang bagi Indonesia jika dikelola secara komprehensif.

Dari risetnya, Hermawan Kartajaya memperkenalkan tren "Citizen 4.0" untuk melihat perubahan komunikasi antar-manusia. Menurut dia, interaksi antar manusia sekarang ini semakin horisontal, inklusif, dan sosial, yang direkatkan oleh teknologi informasi serta media sosial yang menjangkau populasi manusia secara masif.

Baca juga: Fenomena Etika di Media Sosial

Menurut Kartajaya, perlahan-lahan terjadi pergeseran pola komunikasi yang tidak lagi memperhitungkan bangsa, suku, agama, serta latar belakang kultur manusia. Setiap orang berproses menjadi bagian dari "citizen of the world".

Gagasan Hermawan Kartajaya ini merupakan edisi lanjutan dari karya risetnya bersama Philip Kotler, yang dipublikasikan pada 2016, yaitu Marketing 4.0, Moving from Traditional to Digital.

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X