Munawir Aziz
Sekretaris PCI Nahdlatul Ulama United Kingdom, Penulis Sejumlah Buku

Sekretaris PCI Nahdlatul Ulama United Kingdom, menulis buku Bapak Tionghoa Nusantara: Gus Dur, Politik Minoritas dan Strategi Kebudayaan (Kompas, 2020) dan Melawan Antisemitisme (forthcoming, 2020).

Media Sosial dan Semangat Millenial 4.0

Kompas.com - 07/05/2018, 11:25 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Dari analisa data tersebut, konsultan politik menyebarkan hoaks, kabar yang dimanipulasi, dan beberapa mekanisme informasi terselubung untuk mempengaruhi psikologi pemilih.

Olahan data ini, yang dikerjakan Cambridge Analytica, berhasil mempengaruhi proses pemilihan presiden di Amerika Serikat. Masyarakat negeri itu gelisah dengan perkembangan teknologi masif yang justru menikam dari belakang, menusuk proses demokratisasi.

Lubang gelap media sosial

Bocornya data Facebook inilah yang menjadi ironi dan lubang gelap media sosial. Kegelisahan yang senada juga terjadi di Indonesia, dengan ancaman dari kebocoran data-data media sosial untuk kepentingan kontestasi politik.

Baca juga: Ketika Media Sosial Menjadi ?Agama? dan ?Kitab Suci? Baru

Induk perusahaan Cambridge Analityca, Strategic Laboratories Group (SCL) disebut telah mempengaruhi proses pemilu di 40 negara, termasuk Indonesia.

Dari data yang dilansir Facebook, kebocoran data tertinggi di Amerika Serikat, sebanyak 70.632.350 akun (81,6 persen), selanjutnya, di Filipina 1.175.860 akun (1,4 persen), Indonesia 1.096.666 akun (1,3 persen), Inggris 1.079 .031 akun (1,2  persen) dan Meksiko 789.880 akun (0,9 persen).

Kebocoran data Facebook juga meluas ke Canada, India, Brasil, Vietnam, dan Australia.

Menanggapi badai teknologi ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melayangkan Surat Peringatan tertulis kedua (SP II) kepada perusahaan Facebook pada 10 April 2018.

Surat peringatan ini merupakan tindak lanjut Surat Peringatan I, yang telah dilayangkan Kominfo pada Facebook pada 5 April 2018 terkait kebocoran data pengguna di Indonesia.

Menurut Kominfo, Facebook telah memberikan keterangan resmi atas tiga surat yang telah dikirimkan Kominfo terkait kebocoran data. Namun, keterangan pihak Facebook masih dianggap kurang memadai.

Menuju citizen 4.0

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.