Bye Bye Plastic, Kisah 2 Gadis Muda Mewujudkan Bali Bebas Sampah Plastik

Kompas.com - 07/05/2018, 12:12 WIB
Sampah plastik menjadi masalah bersama umat manusia. Sampah ini sulit diurai bahkan membutuhkan ratusan tahun. KOMPAS.COM/ROSYID AZHARSampah plastik menjadi masalah bersama umat manusia. Sampah ini sulit diurai bahkan membutuhkan ratusan tahun.

Baca juga: Kevin Lilliana, Belanja Tanpa Kantong Plastik

Setelah mendapat dukungan secara online, Melati dan Isabel pun meminta bantuan temannya untuk mewujudkan ide tersebut. mereka pun bergerak ke sekolah-sekolah untuk mengajak rekan-rekan seusia mereka agar peduli terhadap sampah plastik.

"Next step adalah bicara di sekolah-sekolah dan membuat tim. Kami mengumpulkan 6 orang teman. Ini ide kita tolong bantu. Akhirnya dari two sister to big team young people. And we kid in the mission!" ujar dia.

Saat ini Bye Bye Plastic berkekuatan 30 orang inti di Bali. Mereka terdiri dari anak berusia 9 tahun hingga mahasiswa. "Tetapi kami bekerja sama dengan 40 LSM, dan kalau kita mau aksi kita punya 20.000 orang yang bisa datang," ucapnya sambil tertawa.

Dalam 5 tahun, kedua kakak beradik dan timnya terus berupaya untuk mewujudkan gagasan mereka. Mereka pun sudah berubah menjadi changemakers seperti idola mereka, Nelson Mandel dan Kartini. Mereka menjadi suara anak muda untuk menyampaikan gagasan mereka tidak hanya lokal tetapi juga di dunia.

"Kami tiba-tiba menjadi suara anak muda. A wake up call bagi semua orang untuk mulai bicara, 'hey we have to start building a future and world that we are happy about it, that we want to be a part it,'" ucap dia.

"Voice of youth ini, tidak hanya di Bali, atau Indonesia, tapi sudah mendunia. Kami sudah bicara dengan 18.000 anak muda di seluruh dunia. Kami juga sudah membuat buku edukasi untuk anak SD di Indonesia. Buku yang fun untuk belajar mengenai isu ini," tambahnya.

Melati dan Isabel pun diundang ke berbagai negara termasuk juga markas Perserikatan Bangsa Bangsa untuk berbicara mengenai sampah plastik di hadapan para pemimpin dunia. "Kami juga sudah bicara di konferensi di hadapan para pemimpin bisnis dan industri," sebutnya.

2018 Pembatasan Kantong Plastik di Bali

Salah satu buah perjuangan anak-anak bangsa ini adalah tercapainya kesepakatan bersama (MoU) dengan Gubernur Bali I Made Mangku Paskita mengenai pembatasan kantong plastik di Bali pada tahun 2018.

"Kami punya surat edaran, surat dukungan, kami juga sudah bicara dengan bupati-bupati di Bali, DLH-DLH (dinas lingkungan hidup) dan kami bekerja sama dengan mereka supaya itu bisa terlaksana, dan kami akan punya pulau yang bebas plastik," imbuh dia.

Meski sekarang sudah memasuki bulan kelima tahun 2018, masih belum ada tanda-tanda penerapan MoU tersebut, meski mengaku agak frustasi Melati tetap optimistis. Menurut dia 2018 masih ada sampai akhir tahun untuk mewujudkan MoU pembatasan plastik di Pulau Dewata itu.

"Dan kita tidak bisa point a finger menyalahkan orang lain. Harus bekerja bersama. Namun sebagai anak muda, terkadang frustasi juga untuk berusaha mengerti kenapa lama sekali," sebutnya.

"Kita harus memulai dengan langkah kecil. Mengatakan say no to plastik memang gampang sekali, tetapi untuk melakukannya memang perlu waktu. Dan seharusnya Bali bisa menjadi contoh untuk memimpin dan pelopor bagi Indonesia," demikian Melati Wijsen.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X