Dollar AS Tembus Rp 14.000, Pembayaran Utang Indonesia Membengkak

Kompas.com - 08/05/2018, 13:14 WIB
Ilustrasi THINKSTOCKIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dengan kurs rupiah yang menembus level Rp 14.000 per dollar AS, terjadi pembengkakan kewajiban membayar utang luar negeri Indonesia hingga Rp 5,5 triliun.

"Selisih pembengkakan ini akibat currency missmatch, jika gunakan kurs Rp 13.400 sesuai APBN, maka pemerintah wajib membayar Rp 121,9 triliun," ujar ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara melalui pesan singkat kepada Kompas.com, Selasa (8/5/2018).

"Sementara dengan kurs sekarang di kisaran 14.000, beban pembayaran menjadi Rp 127,4 triliun," lanjutnya.

Dia mengatakan, munculnya pembengkakan ini akan mempersempit ruang fiskal perekonomian Indonesia, meski masih tetap bisa membayar utang jatuh tempo.

Baca juga: Dollar AS Tembus Rp 14.000, Ini Kata Sri Mulyani

Sebagai informasi, berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah yg jatuh tempo di 2018 mencapai 9,1 miliar dollar AS yang terbagi menjadi 5,2 miliar dollar AS utang pokok sementara 3,8 miliar dollar AS sisanya adalah bunga. 

Selain itu, depresiasi rupiah juga akan meningkatkan biaya impor cukup tinggi. Untuk impor baik bahan baku, barang modal dan barang konsumsi yang sebagian besar menggunakan kapal asing akan membutuhkan dolar sebagai biaya logistik.

"Ini pasti semakin membebani industri domestik. Sementara daya beli sedang lesu, jadi penjual tidak akan sembarangan naikan harga barang," lanjutnya.

Menurutnya, dampak yang dihasilkan dari peningkatan biaya impor karena depresiasi ini dapat menggerus pendapatan pelaku usaha. 

Selain itu, depresiasi juga akan berpengaruh pada harga jual barang kebutuhan pokok yang akan memukul daya beli masyarakat miskin.

"Saya ambil contoh bawang putih yang 85 persen lebih pasokannya impor. Mendekati Lebaran permintaan secara musiman tinggi dan dapat mendorong inflasi," ujarnya

Dampak lain adalah, sebegai negara net importir minyak, pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya impor minyak. Bhima menjelaskan, tahun 2017 lalu neraca migas Indonesia defisit 8,5 miliar dollar AS karena membengkaknya impor minyak hingga 24,3 milliar dollar AS.

"Ini tidak sehat dan memengaruhi harga BBM non subsidi yang dipakai angkutan barang kebutuhan pokok," ucap dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X