Teror Bom dan Perekonomian Indonesia - Kompas.com

Teror Bom dan Perekonomian Indonesia

Kompas.com - 15/05/2018, 06:47 WIB
Presiden Joko Widodo tiba di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Jokowi didampingi Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian, Menkopolhukam Wiranto, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Komjen Polisi Budi Gunawan saat meninjau Gereja yang terdampak bom.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Presiden Joko Widodo tiba di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Jokowi didampingi Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian, Menkopolhukam Wiranto, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Komjen Polisi Budi Gunawan saat meninjau Gereja yang terdampak bom.

JAKARTA, KOMPAS.com - Adanya teror bom di Surabaya sedikit banyak tentu mempunyai dampak terhadap perekonomian Indonesia.

Namun pemerintah dan stakeholder lainnya meyakini dampak teror bom tersebut tidak berlangsung lama.

Seperti disampaikan Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Niaga Andrian Panggabean. dampak teror terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya bersifat sementara. Dampak sementara ini lebih dikarenakan reaksi pasar yang terkejut atas kejadian tersebut.

"Jika ditarik secara historis, kita 2002 pernah kena bom Bali, (bom di hotel) Marriot juga pernah. Itu kan sebenarnya karena sentimen, trajectory dari currency enggak terpengaruh sama hal seperti ini," kata Andrian pada Senin (14/5/2018).

Baca juga: Ada Teror Bom, Mendag Sebut Investor Masih Percaya Indonesia

Selain dari IHSG, Andrian juga menyoroti posisi rupiah yang mulai stabil di level Rp 13.900 terhadap dollar AS. Dua hal itu setidaknya memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki imunitas terhadap kejadian teror serupa.

Dari sisi kegiatan perdagangan, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut teror yang dimulai dari kejadian di Rutan cabang Salemba, Mako Brimob, hingga kejadian di Surabaya tidak menyurutkan kepercayaan investor terhadap Indonesia. Menurut Enggar, para investor masih yakin pemerintah dapat mengatasi kejadian ini.

"Saya rasa (kepercayaan investor) tidak (terganggu) karena mereka juga percaya bahwa itu akan teratasi. Sesaat ada travel advice, itu suatu hal yang wajar," tutur Enggar di tengah kunjungannya di pabrik bir Bintang, Kota Tangerang, Senin siang.

Enggar menilai, apa yang terjadi di Indonesia berbeda dengan negara lain yang mengalami kondisi tidak stabil dari sisi keamanan secara berturut-turut atau berkelanjutan.

Peristiwa teror di Indonesia belakangan ini memang menyita perhatian, namun dampaknya tidak akan berlangsung lama karena otoritas keamanan bersama pemerintah sudah berjanji menanganinya dengan serius.

Hal yang sama diungkapkan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio. Tito memandang, teror di Indonesia tidak akan berpengaruh besar terhadap aktivitas di pasar modal.

Dia turut mengimbau agar investor serta pelaku pasar modal tidak bereaksi secara berlebihan dan tetap optimistis terhadap stabilitas keamanan nasional.

Lebih jauh lagi, pihak Kementerian Keuangan memastikan teror di Surabaya dan peristiwa serupa tidak sampai mengganggu fundamental ekonomi Indonesia.

Pihak Kemenkeu juga meyakini aparat keamanan segera membereskan hal tersebut agar kepercayaan investor bisa kembali sepenuhnya terhadap pemerintah Indonesia.

"Kita perlu restore keamanan, karena itu sangat penting untuk membuat pasar tetap confident," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman.

Kompas TV Hingga senin (14/5) petang, total 12 jenazah korban peledakan gereja di Surabaya telah teridentifikasi.


Close Ads X