Menjaga Rupiah, Perlukah BI Menaikkan Suku Bunga? - Kompas.com

Menjaga Rupiah, Perlukah BI Menaikkan Suku Bunga?

Kompas.com - 15/05/2018, 08:13 WIB
Petugas menghitung pecahan dolar Amerika di salah satu gerai penukaran mata uang di Kwitang, Jakarta Pusat, Selasa (8/5/2018). Nilai tukar rupiah terhadap dolla AS yang ditransaksikan pada Selasa (8/5/2018) ditutup melemah 51 poin atau 0,36 persen ke level Rp14.052 per dollar AS.ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN Petugas menghitung pecahan dolar Amerika di salah satu gerai penukaran mata uang di Kwitang, Jakarta Pusat, Selasa (8/5/2018). Nilai tukar rupiah terhadap dolla AS yang ditransaksikan pada Selasa (8/5/2018) ditutup melemah 51 poin atau 0,36 persen ke level Rp14.052 per dollar AS.

JAKARTA, KOMPAS.com - Terhitung Senin (14/5/2018), rupiah telah kembali ke level Rp 13.976 per dollar AS berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor).

Ekonom mengatakan, dollar AS berhenti menguat karena secara fundamental Amerika Serikat sedang mengalami defisit, baik dari sisi fiskal maupun transaksi berjalan (current account).

"Saya melihat memang US dollar memang tidak bisa menguat lagi, karena secara fundamental emang AS mengalami defisit baik di current account maupun fiskal sehingga tekanan inlfasi seharusnya menyebabkan dollar melemah," ujarnya Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean kepada Kompas.com, Senin (14/5/2018).

Lebih lanjut Adrian mengatakan, AS memiliki kepentingan untuk menjaga ekspor mereka, sehingga mata uangnya tidak boleh terlalu kuat.

Baca juga: Rupiah Mulai Tinggalkan Level Rp 14.000 Per Dollar AS

"Jadi fenomena penguatan dollar menurut saya mungkin temporer dan kemarin sudah kita alami rupiah bisa kembali di 13.000, tidak 14.000," ujar Adrian.

Meskipun telah meninggalkan level psikologis Rp 14.000, Adrian tidak menampik kemungkinan volatilitas masih akan membayangi. Menurut dia, Amerika Serikat akan terus melakukan pengetatan kebijakan suku bunga yang berdampak pada volatilitas di pasar finansial.

"Kalau lihat konteks global, pengetatan suku bunga AS terus melaju di tengah-tengah akomodasi moneter di Jepang dan Eropa, turbulensi akan terulang sehingga secara umum 2018 akan diwarnai oleh volatility di pasar finansial," ujarnya.

Belum perlu naikkan suku bunga

Menanggapi pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo untuk membuka ruang menaikkan suku bunga acuan (7-Days Repo Rate minggu lalu, Adrian beranggapan BI belum perlu meningkatkan suku bunga.

Menurut dia, kondisi ekonomi saat ini bukan karena melemahnya kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetapi disebabkan oleh gejolak global yang menghantam hampir seluruh negara di dunia.

"Kondisi ekonomi ini bukan isolated case pelemahan fundamental ekonomi Indonesia tapi karena faktor global yg menghantam seluruh dunia. Semua currency di emerging market dan developed market kena," ujarnya.

Selain itu, pelemahan rupiah relatif hanya terjadi terhadap dollar AS saja. Namun, rupiah tidak melemah terhadap mata uang lain, seperti yen dan euro.

Baca juga: Analis: IHSG akan Menguat jika BI Naikkan Suku Bunga Acuan Pekan Ini

"Di region ini kita cederung netral. Jadi isunya bukan rupiah, tapi dollar AS," lanjut Adrian.

Selain itu, jika dilihat dari sisi keranjang mata uang, total nilai transaksi ekspor dan Impor antara Indonesia dan Amerika hanya 10 persen dari total transaksi ekspor dan impor Indonesia. Sementara lebih dari 60 persen lainnya adalah China, Eropa, dan ASEAN.

"60 persen dari basket of currencies-nya kita enggak naikan suku bunga. Jika 10 persen naikkan suku bunga, sementara 60 persen lain tidak, maka akan lebih logis kalau kita enggak naikkan suku bunga," sebutnya.

Di sisi lain volatilitas pada pasar surat utang dan saham sedang dalam tren menurun, sehingga BI tidak lagi dianggap perlu untuk meningkatkan suku bunga.

"Mungkin empat minggu lalu naik tajam (volatilitas pasar surat utang dan saham), tapi sekarang udah jauh lebih rendah. Jadi, menaikkan suku bunga ketika volatility sedang dalam tren penurunan tajam mungkin counterproductive menurut saya," ujarnya.

Senada dengan Adrian, pengamat pasar saham Satrio Utomo pun beranggapan keputusan BI untuk membuka kemungkinan meningkatkan suku bunga kontraproduktif dengan kondisi pasar saat ini.

"Memang sayang sebenarnya dengan kondisi yg sudah cukup kondusif hingga Jumat sore BI mengeluarkan komentar bahwa mereka mungkin akan menaikkan suku bunga, itu kontraproduktif dengan kondisi market terakhir," ujarnya ketika dihubungi Kompas.com, Senin (14/5/2018).

Dia menyebutkan, pernyataan BI tersebut bisa jadi merupakan sinyal yang menunjukkan otoritas moneter itu siap untuk melakukan berbagai cara dalam menjaga stabilitas rupiah.

Apa yang harus dilakukan?

Menurut Adrian, untuk menjaga stabilitas ekonomi sehingga investor tetap berada di pasar Indonesia, pemerintah perlu untuk melakukan reformasi dalam bidang tata niaga, peraturan investasi, dan ekonomi.

"Message bahwa reformasi terus berlanjut itu akan membuat investor pricing in, ekspektasi return di Indonesia akan tetap tinggi," ujarnya.

Selain itu, dalam membuat kebijakan pemerintah harus logis serta mempertahankan variabel-variabel makro ekonomi agar tetap sehat.

"Yang terakhir adalag tidak panik, sejauh konfigurasi makro ekonomi tetap sehat, kebijakan rasional, kegaitan ekonomi berjalan enggak perlu panik," ujarnya.

Ditambah lagi, impelemntasi reformasi dalam pasar finansial yang terus berjalan akan memperkuat dinamika ekonomi sehingga investor global akan datang ke indonesia.

"Yang akhirnya, investment itu (berasal) dari return yang hanya bisa diperoleh dari konfigurasi fundamental ekonomi yang baik," sebutnya.

Baca juga: Menjawab Twitter Fadli Zon soal Pelemahan Rupiah


Kompas TV Simak dialognya dalam Sapa Indonesia Pagi berikut ini.

Komentar
Close Ads X