Ekonomi Indonesia Melawan Terorisme

Kompas.com - 18/05/2018, 15:08 WIB
Warga membawa spanduk saat aksi solidaritas lawan terorisme di halaman TMP Radin Wijaya, Blitar, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018) malam. ANTARA FOTO/Gema Mayer Warga membawa spanduk saat aksi solidaritas lawan terorisme di halaman TMP Radin Wijaya, Blitar, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018) malam.

KOMPAS.com - Teror demi teror terus menghantam bumi pertiwi yang kita cintai, Indonesia. Sejak insiden Markas Komando Korps Brigade Mobil Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, yang berakhir pada Kamis 10 Mei 2018, aksi teror oleh teroris terafiliasi dengan ISIS masih berlangsung.

Satu demi satu aksi itu dilakukan, mulai pengeboman tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018) pagi, ledakan bom di rumah susun Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur, pada malam harinya, serta pengemboman Markas Polrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018).

Di luar dugaan, aksi teror dalam bentuk serupa terjadi di Mapolda Riau, berupa penyerangan terhadap petugas kepolisian. Ini insiden yang terakhir.

Puluhan orang menjadi korban tewas dan luka-luka akibat rentetan peristiwa tersebut. Presiden Joko Widodo pun memerintahkan agar Polri dibantu TNI bersama-sama memberantas terorisme. Polri kemudian menggencarkan razia untuk mendeteksi keberadaan para teroris.

Dari sisi ekonomi, para pemangku kebijakan, seperti Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Menteri Keuangan Sri Mulyani, hingga sejumlah pengamat ekonomi, meyakinkan pasar tidak terganggu. Aparat keamanan yang sigap menyikapi terorisme demi terorisme menjadi alasan di balik optimisme mereka.

Lalu, bagaimana pengaruh terorisme terhadap perekonomian Indonesia ke depan? Langkah-langkah apa yang harus dilakukan para pemangku kepentingan demi menjamin kelangsungan kegiatan ekonomi?

Kekerasan

Terorisme merupakan penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan, terutama tujuan politik. Dalam kurun waktu satu dekade belakangan, ada perubahan dalam aksi teror global, khususnya oleh Islam radikal. Jika sebelumnya Al-Qaeda di bawah pimpinan Osama bin Laden yang menojol, maka sejak beberapa tahun terakhir giliran ISIS yang mencuat.

Apapun organisasinya, terorisme hanya melahirkan kerugian bagi banyak pihak. Masyarakat dan negara jadi korban, mulai kehilangan nyawa hingga gangguan perekonomian.

Ada banyak kajian terkait pengaruh terorisme terhadap perekonomian, terutama di negara berkembang. Penelitian terbaru disampaikan peneliti di Bank Sentral Amerika Serikat Negara Bagian St. Louis AS Subhayu Bandyopadhyay dan guru besar ekonomi di American University of Sharjah Uni Emirates Arab Javed Younas.

Penelitian mereka berawal dari pertanyaan sederhana. Apakah terorisme dapat mengganggu ekonomi negara berkembang dari sisi pertumbuhan ekonomi, kemampuan menarik investasi asing, dan arus perdagangan?

Pada hasil penelitian mereka terhadap 12 negara yang menderita terorisme sepanjang 2001-2012, Bandyopadhyay dan Younas menyimpulkan terorisme dapat menciptakan kerentanan di negara yang menjadi target serangan teroris. Hal itu dapat menyebabkan dampak ekonomi lebih luas.

Kerentanan, tulis kedua peneliti, sangat merusak perdagangan maupun investasi asing langsung atau dikenal dengan sebutan foreign direct investment (FDI). Semua itu karena banyak negara asing memiliki pilihan berinvestasi dan berbisnis di negara-negara yang minim terorisme.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorLatief
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X