Gubernur BI: Tekanan Nilai Tukar Mata Uang Terjadi di Seluruh Negara Berkembang

Kompas.com - 25/05/2018, 08:05 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo usai dilantik di gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis (24/5/2018). KOMPAS.com/AMBARANIE NADIAGubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo usai dilantik di gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis (24/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Gejolak nilai tukar mata uang terhadap dollar AS tak hanya terjadi di Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, seluruh negara merasakan dampak kebijakan ekonomi di Amerika Serikat.

"Tekanan nilai tukar rupiah saat ini adalah accross the board, keseluruhan negara, karena faktor eksternal. Khususnya apa yang terjadi di AS," ujar Perry di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis (25/5/2018).

Baca: "Peritel Berharap Pelemahan Rupiah Ini Enggak Terlalu Lama..."

Harga obligasi pemerintah AS naik di luar perkiraan. Perry mengatakan, mulanya diperkirakan kenaikan paling tinggi 2,75 persen. Pada kenyataannya, kenaikan tembus di angka 3,3 persen. Hal ini menyebabkan dollar menguat di seluruh dunia karena adanya kenaikan Fed Fund rate.

"(FFR) yang kita perkirakan hanya 3 kali tahun ini tapi kemungkinan ada 4 kali," kata Perry.

Penyebab kedua, yakni defisit fiskal Amerika Serikat lebih tinggi dari semula. Tahun ini diperkirkan 4 persen dan diprediksi ke depan mencapai 5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Hal itu menyebabkan defisit fiskalnya lebih tinggi. Hal tersebut menyebabkan tekanan nilai tukar yang berdampak secara global.

"Dua sebab ini yamg menyebabkan menyebabkan capital outflows hampir di seluruh negara berkembang," kata Perry

Dalam waktu dekat, Bank Indonesia akan memprioritaskan kebijakan moneter untuk menstabilkan kurs. Caranya dengan mengombinasikan kebijakan suku bunga dan intervensi ganda.

BI belakangan telah menaikkan suku bunga menjadi 25 bps. BI juga akan lebih preentif dalam merespon kebijakan suku bunga.

Kedua, kata Perry, pihaknya akan terus melakukan intervensi ganda untuk stabilisasi kurs.

"Supply foreign exchange dan membeli SBN dari sekunder. Tahun ini kami beli hampir Rp 50 triliun SBN yang dijual asing. Kami terus beli agar bisa lebih stabilkan kurs," kata Perry.

Selain itu, BI juga akan berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Kementerian Keungan untuk menentukan langkah bersama menstabilkan kurs. Pertemuan juga dilakukan drngan kalangan perbankan dan dunia usaha untuk meyakinkan mereka bahwa stabilitas nilai tukar itu penting.

"BI berkomitmen melakukan stabilitas itu dan perlu dukuugan perbankan dan dunia usaha," kata Perry.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X