Pasar Masih Volatil, Investor Domestik Dituntut Lebih Aktif - Kompas.com

Pasar Masih Volatil, Investor Domestik Dituntut Lebih Aktif

Kompas.com - 26/05/2018, 14:14 WIB
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Volatilitas pasar finansial domestik diprediksi masih akan terjadi pada semester II 2018. Investor lokal pun diharapkan bisa lebih aktif lagi dalam mengambil tindakan pada periode tersebut.

Head of Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menjelaskan bahwa pemerintah dalam hal tersebut harus mampu membuat investor lokal tertarik berinvestasi di dalam negeri.

"Jadi kuncinya adalah bagaimana supaya menarik investor lokal ini lebih aktif lagi pertama tentu me-manage inflasi, volatilitas inflasinya jangan swing terlalu besar," kata Handy di Jakarta, Jumat (25/5/2018).

Kestabilan volatilitas inflasi tersebut juga penting untuk meningkatkan kepercayaan diri investor domestik. Pasalnya, dengan inflasi yang stabil, para investor domestik itu bisa berinvestasi dengan tenor panjang agar tak mengalami kerugian.

Baca juga: Pasar Sedang Bearish, Investor Jangan Salah Ambil Posisi

Keaktifan investor domestik dalam pasar finansial dalam negeri juga dibutuhkan untuk mengisi kekosongan yang disebabkan keluarnya para investor asing.

"Kenapa asing ini keluar? Karena suku bunga di luar lagi tinggi-tingginya, jadi cost of fund mereka juga mahal, kalau dia pinjam dollar di luar sudah mulai mahal. Terus kedua waktu dia mau hedging rupiahnya karena rupiah trennya agak melemah belakangan ini mahal juga buat mereka," jelas Handy.

Adapun hal kedua yang mesti dijaga pemerintah agar investor lokal lebih aktif di dalam negeri adalah dengan menjaga likuiditas rupiah.

"Jadi likuiditas rupiah harus di-maintain oleh Bank indonesia, maka dengan begitu harapannya cost masih bisa dimanage rendah dan mereka bisa lebih aktif," pungkas Handy.

Kompas TV Sejumlah investor mengaku teror bom tidak memengaruhi keputusan investasi mereka di Indonesia.


Komentar
Close Ads X