Menteri Arab Saudi: Pertemuan dengan Rusia akan Tentukan Kuota OPEC

Kompas.com - 28/05/2018, 05:03 WIB
Ilustrasi Minyak KOMPAS/TOTO SIHONOIlustrasi Minyak


KOMPAS.com
—Otoritas Arab Saudi mengatakan, organisasi negara-negara produsen minyak ( OPEC) membuka kemungkinan menambah pasokan minyak dunia.

Langkah ini disebut sebagai upaya menjaga ketersediaan minyak dunia setelah Venezuela—salah satu penghasil minyak utama dunia—kolaps dan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi ke Iran.

Dikutip melalui CNNMoney, Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih mengatakan dia sedang melakukan komunikasi intensif dengan negara-negara anggota OPEC dan Rusia mengenai cara menyeimbangkan neraca perdagangan minyak dunia pada saat ini.

"Perhatian utama produsen minyak adalah menjaga pasar minyak senantiasa sehat, dan hal itu berarti kami harus menyesuaikan kebijakan (terkait produksi minyak) kami pada Juni, dan kami yakin bahwa kami benar-benar siap untuk melakukan itu (menyesuaikan kebijakan)," ujar Al-Falih, dalam diskusi panel yang dihelat CNNMoney pada akhir pekan lalu.

Baca juga: OPEC Desak AS Rem Produksi Minyak Serpih

Negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC berdamai dengan Rusia dan dijadwalkan bertemu di Vienna pada 22 Juni 2018. Rencananya, pertemuan membahas kekurangan pasokan minyak dunia yang diperkirakan bakal mendorong harga sampai ke kisaran 80 dollar AS per barrel sehingga menaikkan harga bahan bakar dan merugikan importir besar seperti India.

"Dua tahun lalu, kami mengetatkan pasokan minyak. Saya pikir dalam waktu dekat kami akan mulai melonggarkan pasokan itu," ujar Al-Falih.

Diperkirakan sejumlah langkah itu diharapkan mulai berjalan pada pertengahan tahun ini. Namun, penambahan kuota bakal melebihi atau kurang dari satu juta barrel belum dapat dipastikan.

Meski demikian, Al-Falih memastikan penambahan kuota akan dilakukan secara bertahap demi menghindari keterkejutan pasar.

Selepas harga minyak sempat menyentuh 26 dollar AS per barrel pada 2016, OPEC dan beberapa negara produsen minyak non-OPEC bersepakat memotong produksi minyak hingga 1,8 juta barel per hari sejak awal 2017.

Baca juga: Ini 12 Tuntutan AS yang Wajib Dipenuhi Iran agar Bebas dari Sanksi

Pemotongan pasokan minyak ini dijadwalkan berakhir pada akhir tahun ini. Namun, kepada CNNMoney, Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan, negaranya siap menambah produksi minyak dalam waktu dekat, setelah mempelajari pasar, termasuk dampak jangka panjang dari sanksi yang dihadapi Iran.

"Namun, kesepakatan ini harus didukung oleh semua pihak yang terlibat. Dan saya percaya semua ini akan dibahas pada (pertemuan) Juni, ketika kami semua berkumpul dan saat itulah keputusan dapat dibuat," ujar Novak.

Persediaan minyak dunia sebenarnya sudah cukup mengetat sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada awal Juni menyatakan keluar dari kesepakatan nuklir dengan Iran dan menjatuhkan sanksi kepada salah satu anggota OPEC ini.

Pada 2016, sanksi terhadap Iran—yang mencakup embargo minyak—sempat dicabut. Sejak saat itu, Iran menggenjot produksi minyak sampai satu juta barrel per hari. Diperkirakan, sanksi terbaru yang dikenakan ke negara itu akan berdampak pula pada angka produksi minyak Iran.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber CNNMoney
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X