Bagaimanapun, Harga Minyak Akan Mencapai 100 Dollar AS per Barrel

Kompas.com - 29/05/2018, 09:35 WIB
Ilustrasi THINKSTOCKPHOTOSIlustrasi
Penulis Mutia Fauzia
|

NEW YORK, KOMPAS.com - Meskipun Arab Saudi berupaya menjaga harga minyak dunia, dengan produksi minyak bumi di Venezula yang berhenti total dapat memunculkan kemungkinan harga minyak menukik hingga 100 dollar AS per barrel dalam waktu dekat.

Harga minyak di pasaran telah meningkat secara stabil sejak tahun lalu, dengan Brent yang mencapai harga tertingginya 80 dollar AS per barrel bulan ini.

Gejolak pada harga minyak dimotori oleh pengetatan produksi minyak oleh OPEC dan meningkatnya permintaan global.

Meskipun beberapa waktu belakangan, harga minyak kembali turun karena munculnya kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan (oversupply).

Baca juga: India Sebut Harga Minyak 80 Dollar AS Tidak Masuk Akal

"Saya pikir Arab Saudi, negara-negara OPEC dan Rusia telah mencapai tujuannya untuk membersihkan pasar minyak dunia," ujar investment comitte member dari QUilvest Weath Management Bob Parker, dikutip melalui CNBC.

Dirinya melanjutkan alasan negara-negara produsen minyak tersebut menghindari menukinya harga minyak hingga 100 dollar AS per barrel adalah untuk menghindari anjloknya kondisi pasar minyak dunia.

Kekhawatiran akan kondisi inimendorong Arab Saudi dan Rusia melakukan diskusi terkait kemungkinan untuk meningkatkan produksi hingga 1 juta barrel per hari.

Ditambah lagi, Amerika juga diberitkana akan meningkatkan produksi minyak mereka.

Baca juga: Tahun Depan, Harga Minyak Diprediksi Tembus 100 Dollar AS Per barrel

Sehingga, pada Senin (28/5/2018) pagi waktu setempat, Brent diperdagangkan pada kisaran 75 dollar As per barrel, turun 1,4 persen. Sementara West Texas Intermediate turun 1,7 persen menjadi 66,72 dollar AS per barrel.

Walaupun demikian, penurunan ini hanya bersifat sementara. Parker melanjutkan, kolapsnya Venezuela hingga mereka tidak lagi memroduksi minyak sangat potensial untuk mendorong harga minyak dunia hingga 100 dollar AS per barrel.

Hasil produksi minyak Venezuela sangat rendah beberapa tahun belakangan, karena krisis ekonomi yang menyebabkan kekurangan bahan pangan dan lonjakan inflasi.

Produksi minyak mentah di Amerika Latin telah jatuh hingga 1,4 juta barrel per hari beberapa bulan belakangan. Angka ini menunjukkan penurunan hingga 40 persen dari tahun 2015 lalu.

Kompas TV Kenaikan harga minyak mentah dunia dikhawatirkan berdampak luas pada data makro ekonomi Indonesia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber CNBC
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X