BI: Suku Bunga Acuan Naik Tak Berarti Ekonomi Serta-merta Melambat

Kompas.com - 30/05/2018, 18:44 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com
—Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan tambahan Bank Indonesia (BI) pada Rabu (30/5/2018) memutuskan menaikkan lagi suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen. Namun, kenaikan ini disebut tak berarti membuat pertumbuhan ekonomi terdampak apalagi turun atau melambat.

"Kenaikan suku bunga ini jangan selalu serta merta diartikan pertumbuhan ekonomi akan langsung turun (sebagai imbasnya). Berkali-kali kami sampaikan transimisinya panjang (untuk suku bunga acuan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, baik atau buruk), rata-rata setengah tahun," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dalam konferensi pers, Rabu.

Sebelumnya sejumlah kalangan berpendapat BI perlu menaikkan lagi suku bunga acuan untuk menahan laju tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Namun, sejumlah kalangan pun berpendapat langkah moneter tersebut dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Sri Mulyani: 2019, Pertumbuhan Ekonomi 5,4-5,8 Persen, Kurs Rupiah Rp 13.700-Rp 14.000

Jika dirinci, transmisi dampak kenaikan suku bunga kebijakan harus melalui suku bunga pasar keuangan antarbank, suku bunga deposito, suku bunga kredit, baru kemudian akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Kondisi likuiditas pasar keuangan juga berpengaruh. Jika likuiditas semakin longgar, maka (kenaikan suku bunga acuan) dampaknya semakin kecil. Sementara jika likuiditas ketat, dampaknya dapat segera dirasakan," ujarnya.

Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur Bulanan Tambahan, Rabu (30/5/2018) KOMPAS.com/MUTIA FAUZIA Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur Bulanan Tambahan, Rabu (30/5/2018)

Perry menambahkan, saat ini kondisi likuiditas pasar keuangan, baik rupiah maupun valuta asing (valas) masih berada pada tataran cukup. BI juga sedang dalam proses mempertimbangkan langkah-langkah makroprudensial, pendalaman pasar keuangan, serta perkembangan keuangan syariah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menambahkan, kondisi Indonesia saat ini berbeda dengan masa-masa taper tantrum pada 2013 lalu.

Baca juga: Menyimak Strategi Pemerintah Hadapi Tantangan Ekonomi Global

"Saat taper tantrum memang tightening yang dilakukan cukup signifikan, pemerintah juga melakukan penyesuaian terhadap harga BBM sehingga inflasi cukup tinggi, sehingga BI perlu lakukan adjustment cukup signfikan," ujar Mirza dalam kesempatan yang sama.

Saat ini, menurut dia Indonesia berada pada tahap pemulihan ekonomi. Karena itu, BI melakukan berbagai langkah penyesuaian untuk merespons kondisi eksternal yang saat ini dampaknya paling kentara terlihat pada nilai tukar rupiah.

"FFR akan naik dan masih naik terus sampai akhir 2019, ada juga risiko US Treasury yield mungkin masih naik lagi sekarang. Bisa saja kalau defisit AS output-nya meningkat jadi yield naik di atas 3 persen, ini yang buat capital outflow terjadi di Indonesia, sehingga kita harus lakukan respons," papar Mirza.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.