BPS Minta Pemerintah Waspadai Harga Daging dan Telur Ayam

Kompas.com - 04/06/2018, 12:54 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERAKepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Pusat Statistik ( BPS) Suhariyanto mengimbau pemerintah mewaspadai kenaikan harga daging ayam dan telur ayam menjelang Lebaran tahun ini. Hal itu dikarenakan keduanya termasuk sebagian dari sejumlah komoditas yang signifikan menyumbang andil terhadap inflasi pada bulan Mei 2018.

" Daging ayam perlu diantisipasi karena permintaannya akan terus naik sampai Lebaran tiba. Telur ayam juga dominan, ini selalu muncul di Lebaran dan kembali perlu diwaspadai karena permintaan akan tetap naik sampai Lebaran tiba," kata Suhariyanto melalui konferensi pers di kantornya, Senin (4/6/2018).

Jika merujuk pada data inflasi Mei 2018 sebesar 0,21 persen, kelompok pengeluaran bahan makanan mengalami inflasi 0,21 persen dengan andil 0,04 persen terhadap keseluruhan inflasi bulan tersebut.

Suhariyanto menyebut sejumlah komoditas utama dari bahan makanan yang memengaruhi inflasi, yakni daging ayam, telur ayam, ikan segar, dan bawang merah.

Baca juga: Inflasi Mei Capai 0,21 Persen

Bila dibandingkan dengan data inflasi satu bulan sebelum puasa tahun lalu, perbedaan komoditas yang menyumbang inflasi dengan tahun ini hanya ikan segar. Dari 82 kota di Indonesia yang masuk dalam Indeks Harga Konsumen (IHK), beberapa di antaranya memiliki tingkat konsumsi ikan yang tinggi.

"Kebetulan cuaca tidak mendukung, menyebabkan (ikan segar) ini muncul (dalam komponen penyumbang inflasi)," tutur Suhariyanto.

Terlepas dari komoditas apa saja yang perlu diwaspadai, Suhariyanto juga menyinggung tentang harga beras yang jauh lebih terkendali tahun ini dibanding periode yang sama tahun lalu. Hal itu disebabkan oleh sejumlah upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengamankan stok beras beberapa waktu lalu.

"Bulan ramadan ini, dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah, harga beras bisa turun dan menyumbang deflasi 0,04 persen Juga dengan cabai merah dan cabai rawit," ujar Suhariyanto.

Dia meyakini, komponen dari harga-harga bergejolak yang kebanyakan dari pangan kali ini bisa lebih terkendali. Hal itu ditunjukkan dari komponen pembentuk inflasi Mei 2018 yang kebanyakan dari inflasi inti 0,21 persen dengan andil 0,12 persen, dari harga yang diatur pemerintah 0,27 persen dengan andil 0,06 persen, dan harga bergejolak 0,19 persen dengan andil 0,03 persen.

Inflasi Mei 2018 dinilai masih pada posisi terkendali dan lebih rendah dibanding inflasi Mei 2017 sebesar 0,39 persen. Perbandingan ini sekaligus disandingkan dengan kondisi bulan puasa dan Lebaran, di mana Mei tahun ini dan tahun lalu sama-sama puasa serta Lebaran jatuh di bulan Juni.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X