Polytron, Penguasa Elektronik Indonesia dari Desa Krapyak

Kompas.com - 05/06/2018, 07:39 WIB
Menteri Perindustrian ketika melihat salah satu produk Polytron berupa ponsel berfitur sederhana (feature phone) di salah satu pabrik Polytron di Kudus, Senin (4/6/2018). KOMPAS.com/Mutia FauziaMenteri Perindustrian ketika melihat salah satu produk Polytron berupa ponsel berfitur sederhana (feature phone) di salah satu pabrik Polytron di Kudus, Senin (4/6/2018).

"Untuk inovasi, misalnya TV tabung, meski kami sudah berhenti memproduksi jenis TV ini sejak tahun 2016, namun pasar Indonesia masih menganggap TV yang besar adalah jenis TV yang baik. Maka kami kembangkan itu TV LED yang berlayar datar, tapi tetap berbentuk seperti TV tabung sehingga cembung di bagian belakangnya," ucapnya kepada Kompas.com.

Baca juga: Gadai Barang Elektronik, Mending ke PT Pegadaian ataukah Pusat Gadai Indonesia?

Selain itu, kebanyakan LED TV tidak memiliki kualitas suara yang baik. Padahal, orang Indonesia menonton TV dengan volume yang cukup kencang, Polytron pun melihat peluang tersebut. Maka mereka kembangkan lagi produk TV dengan power speaker.

"Harga tetap bersaing, karena pasarnya adalah masyarakat Indonesia kelas menengah ke bawah untuk jenis ini," papar dia.

Direktur Research and Development Polytron Adi Susanto menambahkan, untuk produk refrigerator atau kulkas andalan mereka, Belleza, Polytron berinovasi dengan menggunakan glass door yang bermotif printing bunga.

Sementara untuk inovasi terbaru, baru-baru ini Polytron sedang memasarkan smart speaker yang terintegrasi dengan aplikasi berbasis android.

"Misalnya lagi, audio kita aplikasikan dengan apps kita versi android. Era zaman now semua membutuhkan gadget, semua harus aplikasi android. Hal-hal spt itu yang membantu produk Polytron bisa sesuai dengan kebutuhan pasar," jelas dia.

Bahan baku domestik

Di beberapa lini hasil produksi seperti speaker, lebih dari 50 persen komponen bahan baku yang digunakan oleh Polytron pun berasal dari dalam negeri. Dengan demikian biaya produksi bisa ditekan karena bahan baku dari dalam negeri cenderung lebih murah serta tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi pasar global.

"Selain itu, keuntungan menggunakan komponen domestik kalau order sampainya cepat, kalau impor waktu pengiriman menggunakan kapal laut sudah makan waktu 3 mingguan baru kita terima. Jadi kita usahan domestik sebanyak mungkin," papar Adi.

Besaran proporsi penggunaan bahan baku domestik dan impor bergantung pada jenis produk yang diproduksi. Untuk bahan baku yang impor, umumnya digunakan untuk produk LED TV dan smartphone. Karena, untuk LED TV dan Smart Phone, banyak komponen elektronik yang belum ada di Indonesia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X