Tan Le, dari Pengungsi Vietnam Jadi CEO Perusahaan Riset Otak Australia - Kompas.com

Tan Le, dari Pengungsi Vietnam Jadi CEO Perusahaan Riset Otak Australia

Kompas.com - 10/06/2018, 16:37 WIB
CEO Emotiv Tan Le saat bicara di The New Yorker TechFest 2016.  Craig Barritt/Getty Images for The New Yorker/AFP CEO Emotiv Tan Le saat bicara di The New Yorker TechFest 2016.

MELBOURNE, KOMPAS.com - Saat usianya masih 4 tahun, Tan Le pergi ke Australia bersama Ibu dan Neneknya untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Dari negara asalnya, Vietnam, Le menghabiskan waktu 5 hari menggunakan kapal. menyeberangi Laut China Selatan bersama dengan 150 orang lainnya. Hingga akhirnya, kapal tanker minyak Inggris menyelamatkan mereka.

Selama 3 bulan berikutnya, Le hidup di kamp pengungsi di Malaysia selama 3 bulan.Dan sampai pada akhirnya, mereka dapat masuk ke Australia.

"Saat itu perasaan kami sangat luar biasa karena Australia memberi begitu banyak. Australia begitu luas, tidak hanya secara geografis, tetapi juga ruang untuk berpikir, untuk memperluas cakrawala, dan untuk memulai segalanya dari awal," ujarnya, dikutip melalu CNBC, Minggu (10/6/2018).

Baca juga: Jumlah Miliarder Naik Jadi 2.754 Orang, Total Harta Rp 128.000 Triliun

Sekarang, di usianya yang ke 41, Le telah menjadi CEO sekaligus founder dari Emotiv, sebuah perusahaan riset khusus untuk otak yang telah mengembangkan teknologi sehingga dapat membuat manusia melakukan hal-hal seperti mengendalikan mobil menggunakan pikirannya.

Setelah mendapatkan gelar sarjana di Monash University, serta menjalankan profesi seagai pengacara sekaligus pengusaha perangkat lunak (software), Le mulai membangun perusahaannya di tahun 2011.

"Otak kita terbuat dari miliaran neuron. Ketika neuron berinteraksi satu sama lain, reaksi kimia tersebut akan memunculkan dorongan elektrik, kami mengukur dorongan tersebut menggunakan headset yang digunakan di kepalamu," ujarnya.

"Kemudian, kita akan mempelajari melalui mesin untuk mengukur dorongan-dorongan tersebut serta mengartikan pola yang muncul menjadi sebuah perintah atau arti, seperti menyalakan lampu, dengan pikiran, atau mengontrol robot atau juga menyetir mobil," lanjut dia.

Pada tahun 2017, seorang yang mengalami kelumpuhan Rodrigo Hubner mendes menggunakan teknologi dari Emotiv ini untuk mengendarai mobil Formula One dengan komputer yang mengartikan pikirannya menjadi perintah untuk kendaraan mobilnya.

Sembari duduk di atas kursi pengemudi, Mendes yang juga penemu organisasi non profit Rodriggo Mendes Institue menjelaskan, tim dari Emotive menggunakan perangkat komputer untuk memetakan dorongan elektronik dari otak, yang mengartikan setiap pikiran atau pola otak dapat memunculkan perintah yang berbeda.

Selain menjalankan Emotiv, Le juga merupakan anggota Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada Global Future Council on Neurotechnologies and Brain Sciences.


"Ketika Anda melihat ke masa depan, saya sama sekali tidak dapat membayangkan dunia di mana kita tidak berinteraksi secara langsung dengan mesin super yang masing-masing dimiliki dalam kepala kita," ujar dia.

Komentar
Close Ads X