Produsen Daging Minta Pemerintah Konsisten Stabilkan Harga

Kompas.com - 13/06/2018, 20:02 WIB
Harga daging sapi di Pasar Daging musiman Peunayong, Kota Banda Aceh naik menjadi Rp. 160 ribu perkilogramnya, kenaikan harga ini terjadi karena menyambut tradisi hari Meugang (hari makan daging), padahal harga daging biasanya hanya Rp 130 ribu perkilogramnya. RAJAUMAR/KOMPAS.COMHarga daging sapi di Pasar Daging musiman Peunayong, Kota Banda Aceh naik menjadi Rp. 160 ribu perkilogramnya, kenaikan harga ini terjadi karena menyambut tradisi hari Meugang (hari makan daging), padahal harga daging biasanya hanya Rp 130 ribu perkilogramnya.


JAKARTA, KOMPAS.com - Pengusaha dan produsen daging meminta pemerintah lebih konsisten untuk membuat harga daging stabil setiap tahun jelang hari raya.

Selama ini, harga daging selalu mengalami kenaikan saat hari raya. Begitu juga menjelang Lebaran kali ini, harga daging naik dibanding hari biasa.

"Harapan kami harga daging stabil, terjangkau, dan ketersediaan barang selalu ada," ujar Direktur Utama PT Suri Nusantara Jaya Dimas Wibowo dalam pernyataan tertulis, Rabu (13/6/2018).

Untuk bisa menjaga ketersediaan daging dan stabilitas harga, ia melanjutkan, pemerintah harus memiliki persediaan minimal 10 persen kebutuhan nasional.

(Baca: BPS Minta Pemerintah Waspadai Harga Daging dan Telur Ayam)

Menurut dia, kebutuhan daging di Indonesia 450.000 ton per tahun, dengan rincian 150.000 ton daging beku impor dan 300.000 ton sisanya dari sapi hidup (impor maupun lokal).

"Saran kami, pemerintah punya stok daging cadangan layaknya beras. Apalagi, dengan perkembangan zaman yang berjalan saat ini daging beku dapat bertahan 2 tahun lamanya (dalam cold storage)," ujar pengusaha daging itu.

Dengan demikian, pemerintah, dalam hal ini BUMN yang mengurus bidang pangan bisa menjalankan management stock dengan baik.

"Indonesia harus punya stock yang cukup berlimpah, tidak hanya kepentingan komersial belaka," katanya.

(Baca: Jual Daging Sapi di Bawah Rp 100.000/kg, Toko Dharma Jaya Diserbu Pembeli)

Negara harus hadir dan berperan lebih jauh untuk menjaga stabilitas harga di pasar. Penerapan harga eceran tertinggi (HET) saat ini dinilai cukup baik.

"Tinggal dibarengi dengan persediaan barang karena yang kami butuhkan hanya kestabilan harga sepanjang tahun, ketersediaan barang, serta harga yg terjangkau. Insyaallah rakyat senang bisa mendapatkan harga yang terjangkau," kata dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X