Dongkrak Layanan Kesehatan Indonesia, Bank Dunia Kucurkan Utang Baru

Kompas.com - 15/06/2018, 11:41 WIB
Seorang ibu memberikan susu kepada anaknya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Sabtu (27/1/2018). Data terakhir jumlah pasien campak dan gizi buruk di RSUD tersebut mencapai 88 dengan rincian penderita campak 7 pasien, gizi buruk 73 pasien, gizi buruk plus campak 2 pasien dan gizi kurang 6 pasien.ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASA Seorang ibu memberikan susu kepada anaknya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Sabtu (27/1/2018). Data terakhir jumlah pasien campak dan gizi buruk di RSUD tersebut mencapai 88 dengan rincian penderita campak 7 pasien, gizi buruk 73 pasien, gizi buruk plus campak 2 pasien dan gizi kurang 6 pasien.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pinjaman baru 150 juta dollar Amerika untuk mendukung perawatan kesehatan primer semua warga Indonesia melalui tata kelola, akuntabilitas, dan pelayanan sektor kesehatan yang lebih baik, Kamis (14/6/2018).

Antara melansir, World Bank Country Director untuk Indonesia dan Timor Leste Rodrigo A. Chaves memastikan pinjaman itu bagian dari Indonesian Supporting Primary Health Care Reform (I-SPHERE) Program yang akan mendukung pelaksanaan Program Indonesia Sehat.

"Kesehatan penting agar Indonesia dapat memenuhi berbagai tujuan di mana warganya sehat dan makmur, memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi pada pertumbuhan dan perkembangan negara yang luar biasa," ujarnya.

(Baca: Utang Luar Negeri Indonesia Menyusut, Ini Sebabnya)

Beberapa tahun belakangan, kondisi sektor kesehatan di Indonesia mengalami peningkatan karena ada perbaikan angka harapan hidup.

Selain itu, angka kematian anak berusia di bawah lima tahun dari turun 46 dari 1.000 kelahiran pada 2002 menjadi 32 dari 1.000 kelahiran pada 2017.

Sayangnya, angka kematian ibu atau perempuan yang meninggal akibat proses kehamilan, persalinan, atau setelah melahirkan masih 126 per 100.000 kelahiran. Angka itu mendekati angka rata-rata negara berpenghasilan rendah.

(Baca: Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia Tinggi, Riset Ungkap Sebabnya)

Selain itu, Indonesia memiliki beban Tuberculosis (TBC) kedua tertinggi di dunia. Adapun TBC menjadi penyebab lebih dari 10 persen kematian dini di Indonesia, dengan hanya sepertiga dari kasus tersebut yang mampu terdeteksi.

Alokasi utang

Tenaga medis dari Puskesmas Binter Lumbis Ogong yang memberikan layanan kesehatan kepada warga perbatasan dengan menggunakana perahu. Terisolasinya warga Lumbis Ogong membuat mereka meminta pemerintah memfungsikan kembali bandara perintis Tao Lumbis yang sudah puluhan tahun mangkrak.KOMPAS.com/SUKOCO Tenaga medis dari Puskesmas Binter Lumbis Ogong yang memberikan layanan kesehatan kepada warga perbatasan dengan menggunakana perahu. Terisolasinya warga Lumbis Ogong membuat mereka meminta pemerintah memfungsikan kembali bandara perintis Tao Lumbis yang sudah puluhan tahun mangkrak.

Beberapa bagian dari pelaksanaan program itu adalah peningkatan kinerja, kapasitas, dan akuntabilitas pemerintah serta fasilitas kesehatan lokal dan perbaikan standar nasional dengan memperkuat akreditasi perawatan primer.

Pelayanan lokal yang lebih baik juga diharapkan dapat tercapai dengan adanya peningkatan orientasi kinerja dari pendanaan kesehatan, termasuk JKN.

"Kinerja pelayanan kesehatan primer yang lebih baik akan meningkatkan tingkat kesehatan dari negara ini, yang merupakan komponen kunci dari modal manusia yang penting untuk kesuksesan Indonesia," kata Chaves.

Ketimpangan akses kesehatan

Dua bayi penderita gizi buruk di rawat di rumah sakit umum daerah (RSUD) Bula Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, Sabtu (18/3/2017)Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty Dua bayi penderita gizi buruk di rawat di rumah sakit umum daerah (RSUD) Bula Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, Sabtu (18/3/2017)

Sementara, program yang dibiayai utang luar negeri itu fokus dilaksanakan di tiga daerah tertinggal di kawasan Indonesia timur, yakni Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.

Tiga kawasan itu sedang menghadapi tantangan ketimpangan hasil kesehatan dan akses terhadap pelayanan kesehatan primer yang berkualitas.

Akibatnya, angka kematian anak berusia di bawah lima tahun, malnutrisi kronis, dan stunting masih terjadi.

Halaman:



Close Ads X