Perang Dagang Memanas, Neraca Perdagangan Kemungkinan Kembali Defisit

Kompas.com - 20/06/2018, 12:24 WIB
Presiden Joko Widodo melepas ekspor produk manufaktur ke Amerika Serikat (AS), dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/5/2018). KOMPAS.com/IhsanuddinPresiden Joko Widodo melepas ekspor produk manufaktur ke Amerika Serikat (AS), dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Dampak perang dagang, terutama antara Amerika Serikat dengan China, dikhawatirkan berdampak kepada kinerja perdagangan di Indonesia yang terlihat dari neraca perdagangan pada Mei 2018.

Badan Pusat Statistik ( BPS) biasanya menjadwalkan rilis neraca perdagangan tiap bulan pada pertengahan bulan berikutnya, namun karena ada libur Lebaran, rilis baru akan disampaikan pekan ini.

"Dari perkembangan perang dagang, dapat berpengaruh langsung terhadap komoditas dan aneka industri serta perusahaan yang berorientasi ekspor lainnya. Di semester II ini sangat mungkin neraca perdagangan kembali defisit," kata Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) saat dihubungi Kompas.com, Rabu (20/6/2018) pagi.

Adapun sejak awal tahun, neraca perdagangan lebih banyak mengalami defisit ketimbang surplus.

(Baca: Cerita di Balik Tingginya Impor dan Lambatnya Ekspor)

Defisit neraca perdagangan terjadi pada Januari (minus 0,68 miliar dollar AS), Februari (minus 0,12 miliar dollar AS), dan April (minus 1,63 miliar dollar AS) sedangkan surplus terjadi pada Maret (1,09 miliar dollar AS).

Ketidakpastian perang dagang antara AS dengan China diyakini berdampak pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Terlebih, AS dan China termasuk negara tujuan ekspor terbesar untuk Indonesia.

"Tekanan impor migas terus meningkat. Aksi jual bursa juga berpotensi naik seiring perkembangan perang dagang yang berpengaruh secara langsung terhadap emiten yang berkaitan dengan ekspor," ujar Bhima.

(Baca: China Balas Ancam Berlakukan Tarif Produk Energi dari Amerika Serikat)

Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengutarakan keinginannya untuk memberlakukan tarif 10 persen untuk produk China senilai 200 miliar dollar AS.

Trump juga sudah meminta US Trade Representative, Robert Lightizer, untuk mulai mengidentifikasi produk apa saja yang akan dikenakan tarif.

China pun sebelumnya sudah menaikkan tarif 50 miliar dollar AS atas produk asal Amerika.

Lebih jauh lagi, China memperingatkan akan membatalkan perjanjian dagang dengan AS jika ada kenaikan tarif impor untuk beberapa komoditas.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X