Biaya Pembangunan LRT Palembang Sesuai Referensi JICA

Kompas.com - 24/06/2018, 19:18 WIB
Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi dan Sekreatis Kabinet, Pramono Anung saat melihat kondisi LRT Asean Games di PT INKA, Madiun, Jawa Timur, Selasa ( 29/5/2018) sore.KOMPAS.com/Muhlis Al Alawi Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi dan Sekreatis Kabinet, Pramono Anung saat melihat kondisi LRT Asean Games di PT INKA, Madiun, Jawa Timur, Selasa ( 29/5/2018) sore.

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai investasi yang digunakan untuk membangun light rail transit ( LRT) Palembang, Sumatera Selatan disebut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih sesuai dengan referensi dari JICA atau Japan International Cooperation Agency.

Di dalam salah satu referensi "urban transportation training handbook" terbitan JICA pada 2011 silam terdapat rincian biaya pembangunan awal atau initial investment cost untuk transportasi berbasis rel.

"Untuk subway biaya pembangunan awalnya sekitar 181 hingga 272 juta dollar AS per kilometer, monorail 45-90 juta dollar AS per kilometer, dan LRT 18-37 juta dollar AS per kilometer," tulis Kemenhub dalam data yang diterima Kompas.com, Minggu (24/6/2018).

Adapun nilai investasi yang digelontorkan pemerintah melalui APBN untuk pembangunan LRT Palembang adalah sebesar 37 juta dollar AS per kilometer atau setara dengan Rp 484 miliar.

Baca: Menhub Bantah Ada Penggelembungan Anggaran Proyek LRT

Nilai investasi tersebut digunakan untuk membangun jalur kereta sepanjang 23,4 kilometer, 13 unit stasiun, dan 24 unit kereta.

Dengan demikian, maka pembangunan LRT Palembang sudah dalam jalur yang benar tanpa ada mark up atau peninggian biaya investasi.

Hal tersebut juga kemudian ditegaskan oleh Menhub Budi Karya Sumadi yang menyatakan bahwa tak ada penggelembungan biaya pembangunan LRT Palembang.

"Menurut hemat saya, sinyalir yang disampaikan (penggelembungan dana) itu tidak benar," ujar Budi di Kantor Kemenhub, Jakarta, Sabtu (23/6/2018).

Budi Karya mengaku, telah berhati-hati dalam mengelola APBN. Untuk menentukan nilai proyek LRT, lanjut Budi, pihaknya telah melibatkan konsultan keuangan internasional.

"Kita itu sangat berhati-hati mengelola dana APBN. Oleh karenanya, kami melibatkan banyak konsultan, terutama konsultan internasional. Kita harapkan sangat governance. Yang kedua, kita melibatkan instansi-instansi yang berwenang di negara ini," imbuh dia.

Apa yang disampaikan Budi Karya tersebut merupakan bantahan terhadap anggapan mark-up yang dituduhkan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto terkait pembangunan LRT Palembang.

Menurut Prabowo, riset indeks pembangunan LRT di dunia menyebutkan biaya pembangunan LRT adalah 8 juta dollar Amerika Serikat (AS) per kilometer. Namun di Indonesia, melebihi jumlah itu.  

Dia mencontohkan, pembangunan LRT Palembang, Sumatera Selatan yang memiliki panjang 24 kilometer. Dana yang dihabiskan untuk proyek tersebut Rp 12,5 triliun.

Itu artinya, dana yang dihabiskan untuk membangun LRT Palembang setiap kilometernya mencapai 40 juta dollar.

“Jadi pikirkan saja berapa mark up yang dilakukan pemerintah untuk 1 kilometernya. Jika 8 juta dollar itu saja bisa mendapatkan untung, apalagi 40 juta dollar? Karena saya mengerti hal ini banyak yang membenci saya,” kata Prabowo dalam sambutannya saat menghadiri halal bihalal bersama warga serta ulama di Grand Rajawali Ballroom Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (21/6/2018).




Close Ads X