Bank Dunia Beri Utang 300 Juta Dollar AS untuk Reformasi Logistik

Kompas.com - 29/06/2018, 19:07 WIB
Suasana tidak adanya aktivitas bongkar muat di terminal peti kemas Koja milik PT Jakarta International Container Terminal (JICT) selama aksi mogok kerja yang dilakukan serikat pekerja JICT di Jakarta, Kamis (3/8). Sebanyak 650 pegawai JICT melakukan mogok kerja terkait perpanjangan kontrak JICT yang dianggap melanggar peraturan, sehingga mengakibatkan kerugian perusahaan yang diperkirakan mencapai Rp200 miliar. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama/17 ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJASuasana tidak adanya aktivitas bongkar muat di terminal peti kemas Koja milik PT Jakarta International Container Terminal (JICT) selama aksi mogok kerja yang dilakukan serikat pekerja JICT di Jakarta, Kamis (3/8). Sebanyak 650 pegawai JICT melakukan mogok kerja terkait perpanjangan kontrak JICT yang dianggap melanggar peraturan, sehingga mengakibatkan kerugian perusahaan yang diperkirakan mencapai Rp200 miliar. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama/17

JAKARTA,  KOMPAS.com - Dewan Direksi Eksekutif Bank Dunia menyetujui pinjaman sebesar 300 juta dollar Amerika Serikat (AS) yang akan diberikan ke Pemerintah Indonesia.

Pinjaman itu merupakan bagian dari program Second Indonesia Logistics Reform Development Policy Loan (DPL) yang diberikan untuk mendukung pemerintah dalam melakukan reformasi pengurangan biaya sekaligus meningkatkan kehandalan logistik maritim.

Logistik maritim yang efisien penting bagi pertumbuhan yang lebih tinggi di sektor manufaktur, pertanian dan jasa,” kata Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia dan Timor-Leste Rodrigo A Chaves dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/6/2018).

Rodrigo menambahkan, logistik yang lebih baik akan meningkatkan daya saing Indonesia.

(Baca: Jokowi Minta Kapolri Tangkap Oknum Penghambat Dwell Time)

Selain itu juga akan membantu mengurangi tingkat kemiskinan dengan menurunkan harga barang dan jasa di daerah pelosok, terutama di kawasan timur Indonesia.

Di sisi lain, Rodrigo masih melihat adanya beberapa hambatan dalam peningkatan daya saing Indonesia.

Hambatan tersebut di antaranya adalah operasi pelabuhan yang tidak efisien, pasar layanan logistik yang tidak kompetitif, dan prosedur perdagangan yang panjang,

" Pelabuhan sering menjadi titik penghambat dalam rantai logistik Indonesia akibat dari infrastruktur yang terbatas, regulasi, dan produktivitas yang rendah," ujar Rodrigo.

(Baca: Pebisnis Dukung Modernisasi Pelabuhan Tanjung Priok untuk Tekan Dwell Time)

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X