OJK: Sektor Jasa Keuangan dan Likuditas Dalam Negeri Masih Terjaga

Kompas.com - 30/06/2018, 06:17 WIB
Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik Otoritas Jasa Keuangan Anto Prabowo (tengah) dan Direktur Penelitian, Pengembangan, Pengaturan, dan Perizinan Perbankan Syariah Deden Firman Hendarsyah (dua kiri), mengamati kegiatan di Bank Wakaf Mikro, Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (5/5/2018). Bank Wakaf Mikro merupakan komitmen  OJK bersama pemerintah untuk terus memperluas penyediaan akses keuangan masyarakat, khususnya bagi masyarakat menengah dan kecil. KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZESDeputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik Otoritas Jasa Keuangan Anto Prabowo (tengah) dan Direktur Penelitian, Pengembangan, Pengaturan, dan Perizinan Perbankan Syariah Deden Firman Hendarsyah (dua kiri), mengamati kegiatan di Bank Wakaf Mikro, Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (5/5/2018). Bank Wakaf Mikro merupakan komitmen OJK bersama pemerintah untuk terus memperluas penyediaan akses keuangan masyarakat, khususnya bagi masyarakat menengah dan kecil.

JAKARTA, KOMPAS.com - Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan dan kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia masih dalam kondisi terjaga.

"Dari indikator yang ada menunjukkan bahwa akselerasi pertumbuhan ekonomi global berlanjut dengan negara maju menjadi penggerak utama, terutama perekonomian Amerika Serikat (AS)," kata Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/6/2018).

Akan tetapi lanjut Anto, keberadaan momentum perbaikan ekonomi global dibayangi beberapa hal negatif.

Naiknya suku bunga AS, krisis politik Italia, dan menguatnya tensi perang dagang memberikan sentimen negatif pada pasar keuangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca juga: OJK Nilai Stabilitas Jasa Keuangan dan Likuiditas Pasar Masih Terjaga

Gejolak yang muncul pada pasar global tersebut akhirnya mendorong Indeks Harga Saham Gabung (IHSG) pada Mei 2018 melemah tipis sebesar 0,18 persen dan ditutup di level 5983.6, dengan investor non-residen mencatatkan net sell sebesar Rp 6,45 triliun.

Sementara itu, di pasar SBN yield SBN tenor jangka pendek, menengah dan panjang masing-masing naik sebesar 46,3 bps, 25,2 bps, dan 27,8 bps.

Adapun pada April 2018 kenaikan rata-ratanya adalah 21 bps dengan investor non-residen mencatatkan net sell di pasar SBN sebesar Rp 11,5 triliun.

"Di tengah perkembangan pasar keuangan tersebut, kinerja intermediasi sektor jasa keuangan pada Mei 2018 terus menunjukkan perbaikan," imbuh Anto.

Hal tersebut ditunjukkan tumbuhnya kredit perbankan sebesar 10,26 persen year on year (yoy). Piutang pembiayaan pun tumbuh 6,37 persen yoy.

Pertumbuhan positif Dana Pihak Ketiga (DPK) perbangkan sebesar 6,47 persen yoy turut menjadi penyebab perbaikan kinerja intermediasi selama Mei 2018.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.