"Lifting" Migas Meleset dari Target

Kompas.com - 06/07/2018, 17:20 WIB
Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi di Kantor SKK Migas, Jakarta, Jumat (6/7/2018).KOMPAS.com/RIDWAN AJI PITOKO Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi di Kantor SKK Migas, Jakarta, Jumat (6/7/2018).

JAKARTA,  KOMPAS.com - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi ( SKK Migas) meraih capaian produksi migas (lifting) Indonesia sebesar 1,923 juta setara barel minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd). 

Capaian tersebut hanya 96 persen dari target APBN 2018 yang sebesar 2 juta boepd.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi menjelaskan rincian capaian lifting migas tersebut.

"Rinciannya, lifting minyak bumi sebesar 771 ribu barel per hari (bopd) atau 96 persen dari target 800.000 bopd. Sedangkan realisasi lifting gas bumi sebesar 1,152 juta boepd atau 96 persen dari target sebesar 1,2 juta boepd," jelas Amien di Kantor SKK Migas, Jakarta, Jumat (6/7/2018).

Baca juga: Realisasi Lifting Migas 2017 Tak Mencapai Target

Amien menambahkan, melesetnya target lifting tersebut bukannya tanpa sebab. Untuk sektor gas bumi, penyebab tidak tercapainya target yang telah ditetapkan adalah karena adanya masalah di sisi konsumer.

Masalah tersebut adalah ketiadaan konsumen ketika ketersediaan gas di hulu siap didistribusikan.

"Kalau seperti ini KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) ini tak bisa disalahkan. Penyebab komersial atau distribusi tidak siap juga macam-macam, ada belum kesepakatan harga, ada manajemen pipa distribusi belum final," imbuh Amien.

Sedangkan target produksi minyak yang tidak tercapai disebabkan adanya masalah pada sektor lapangan.

Baca juga: SKK Migas Sebut Ada 7 Proyek yang Mulai Produksi di 2018

"Kalau minyak itu karena lapangan tua, produksinya decline (berkurang). Supaya ini bisa ditutup dengan produksi baru, jadi harus ngebor sumur baru, kalau pengeboran baru belum 100 persen dan tambah produksi, kan produksi tidak sesuai target jadinya," kata dia.



Close Ads X