Keluarga Korban Kapal Tenggelam di Danau Toba: Kami Sudah Ikhlas - Kompas.com

Keluarga Korban Kapal Tenggelam di Danau Toba: Kami Sudah Ikhlas

Kompas.com - 07/07/2018, 08:18 WIB
Salah satu keluarga korban tenggelamnya kapal Sinar Bangun di Danau Toba menangis usai prosesi tabur bunga di atas kapal Sumut I, Kamis (5/7/2018).KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA Salah satu keluarga korban tenggelamnya kapal Sinar Bangun di Danau Toba menangis usai prosesi tabur bunga di atas kapal Sumut I, Kamis (5/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah telah menghentikan pencarian dan evakuasi korban tenggelamnya KMP Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatera Utara, pada hari ke-14 pencarian.

Tim penyelamat terkendala posisi korban dan kapal yang berada di kedalaman ratusan meter. Untuk mengevakuasinya, tidak bisa dilakukan dengan kemampuan manusia. Sementara itu, alat untuk mengangkut bangkai kapal dan korban tidak tersedia, harus didatangkan dari laut.

Untuk membawa alat tersebut, butuh waktu lebih lama. Akhirnya, tim SAR dan pemerintah memutuskan untuk menghentikan pencarian.

Hal tersebut sempat ditentang langsung aktivis Ratna Sarumpaet. Beberapa keluarga korban juga sempat tak terima. Namun, kini mereka mulai ikhlas melepaskan.

Lik Anwar merupakan orangtua dari salah satu korban bernama Ardi Wardana (19). Ia setiap hari menunggu perkembangan Tim SAR dalam pencarian, namun hasilnya tidak banyak. Titik tenggelamnya korban ditemukan, namun tidak bisa dibawa ke daratan.

"Mereka enggak menemukan, hasilnya nihil. Kita sebagai umat beragama harus mengikhlaskan," kata Anwar.

Ia mengakui awalnya berat untuk merelakan anaknya berada di dasar Danau Toba selamanya. Namun, akhirnya ia bisa menerima alasan tima SAR dan pemerintah untuk menghentikan pencarian. Anwar juga menyampaikan terimakasih kepada para pihak yang banyak membantu selama seminggu ini.

"Kami sekarang hanya bisa berdoa yang terbaik untuk anak saya. Itu yang bisa kami lakukan untuk saat ini," kata dia.

Anwar mengaku tak ada firasat apa-apa soal kepergian anaknya. Saat itu, Adi berpamitan pada ibunya untuk berlibur ke Samosir bersama temannya. Hanya saja, sebelum berangkat, Adi berkali-kali berbalik ke ibunya saat baru beberapa meter meninggalkan rumah.

"Katanya, 'Ma, pergi dulu ya'. Kira-kira tujuh meter dia balik lagi 'assalamualaikum'," kata Anwar.

Hidup memang terus berjalan. Kesedihan harus berlalu. Kata-kata tersebut yang kini terus dipakai Monica Simarmata untuk menguatkan hatinya. Suaminya turut tenggelam dalam kecelakaan itu. Monica mengatakan, suaminya merupakan anggota Koramil Harian Boho.

Saat kejadian, suami Monica bernama Obet Pangihutan Hutauruk itu hendak pulang berdinas. Ia memang rutin pulang seminggu sekali atau dua kali dalam sebulan. Sama sekali tak ada firasat kepergian Obet.

"Seperri biasa saja, sudah 8 tahun bertugas seperti itu," kata Monica.

Monica mengatakan, suaminya sempat menelpon saat berada di kapal. Monica berpesan agar Obet langsung pulang ke rumah. Namun, saat ia menelpon sekitar pukul 20.00 WIB, nomor ponsel Obet tak bisa dihubungi. Monica dan anak-anak tahu ada kapal tenggelam di Danau Toba saat menonton televisi.

Saat itu, ia tak mengira suaminya turut menjadi korban. Kemudian, pukul 00.00 WIB, pihak Koramil Harian Boho menghubunginya. Menanyakan apakah Obet sudah sampai rumah. Setelah tahu Obet belum sampai, pihak Koramil memastikan akan mengonfirmasi apakah Obet termasuk dalam kapal yang tenggelam.

Kemudian, berita melansir nama-nama korban dan Obet termasuk salah satunya. Setelah itu, hampir setiap hari Monica pergi ke posko evakuasi korban yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Sampai-sampai ia menelantarkan pekerjaananya untuk menunggu. Namun, berhari-hari menunggu, tak juga mendapat kabar baik. Sampai akhirnya tim SAR menghentikan pencarian.

"Perasaan kita sekarang setelah diberhentikan ada leganya sedikit lah. Lega tapi kita belum terima juga. Kita masih berharap supaya jenazah mereka yang karam itu dapat muncul. Harapan Kita suatu saat itu masih muncul, masih kami tunggu," kata Monica.

Saat ini, ia masih mencoba mengikhlaskan kepergian suaminya. Ia menyadari bahwa dirinya tak boleh terpuruk terlalu lama. Anak-anaknya masih butuh perhatian.

"Kita juga orang kerja, kita cari makan dari pekerjaan kita. Jadi mau tidak mau kita relakan saja, kita mau tidak mau harus terima," kata Monica.

"Kehidupan harus terus berjalan, anak-anak banyak butuhin kita," lanjut dia.


Komentar
Close Ads X