Kebijakan Tarif Perdagangan Trump Gerus Pertumbuhan Ekonomi China

Kompas.com - 07/07/2018, 10:26 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Balai Agung Rakyat China di Beijing, Kamis (9/11/2017). (AFP/Nicolas Asfouri) Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Balai Agung Rakyat China di Beijing, Kamis (9/11/2017). (AFP/Nicolas Asfouri)

JAKARTA, KOMPAS.com - Enam bulan perdebatan soal tarif perdagangan dengan Amerika Serikat telah mengikis sekitar seperlima dari nilai pasar saham China. Namun, pergerakan tersebut mungkin hanya permulaan dari apa yang akan terjadi.

Indeks saham acuan Shanghai SSEC terjun sekitar 22 persen sejak Januari 2018, ketika tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump untuk solar panel pertama kali diumumkan.

Indeks sahamnya kembali turun 9 persen sejak 19 Juni, ketika Trump menguraikan rencananya untuk pajak impor Cina lebih besar dari yang mulanya diusulkan.

Tarif untuk impor Cina senilai 3 miliar dollar AS dimulai pada Jumat (6/7/2018) kemarin. Beijing tidak punya pilihan selain membalasnya dengan mengenakan pajak jumlah yang sama dari barang-barang AS yang masuk ke China.

Sementara itu, Trump menyatakan tarif AS untuk barang Cina senilai 16 miliar dollar AS lainnya akan diberlakukan dalam dua minggu.

Momok risiko perang perdagangan besar-besaran itu menenggelamkan pasar China lebih dalam.

Sebagaimana dikutip Reuters, penasihat bank sentral China, Ma Jun mengatakan, tarif AS senilai 50 miliar dollar terhadap barang China akan mencukur 0,2 poin persentase dari pertumbuhan Cina.

Para ekonom pasar memperkirakan bahwa setiap 100 miliar dollar AS impor yang dipengaruhi tarif tersebut akan mengambil sekitar 0,5 persen dari perdagangan global.

Hal ini telah berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi China pada 2018 sebesar 0,1-0,3 poin persentase. Angkanya sedikit lebih rendah dari pertumbuhan AS.

"Semakin besar ukurannya (impor menghadapi tarif), semakin besar potensi dampak GDP lebih besar dari ekstrapolasi linier akan mengusulkan," kata Aidan Yao, ekonom senior di AXA Investment Managers di Hong Kong.

Adapun efek lainnya berdampak pada kepercayaan investasi dan rantai pasokan global. Mengingat ketidakpastian atas sengketa perdagangan, analis sekuritas di China menyarankan investor harus menjual saham dan memegang uang tunai.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Reuters
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X