5 Sektor Jadi Prioritas, Menperin Dinilai Ambil Langkah Tepat

Kompas.com - 08/07/2018, 08:15 WIB
Salah seorang warga terlihat serius melakukan pengecekan salah satu makanan kaleng. Saat ini BPOM telang mengumumkan ada 27 produk makanan kaleng mengandung cacing. KOMPAS.COM/ HADI MAULANASalah seorang warga terlihat serius melakukan pengecekan salah satu makanan kaleng. Saat ini BPOM telang mengumumkan ada 27 produk makanan kaleng mengandung cacing.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprioritaskan 5 sektor industri untuk pengimplementasian industri 4.0.

Kelima sektor industri tersebut adalah makanan dan minuman, tekstil, elektronik, otomotif, dan kimia farmasi.

Pakar inovasi dan ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastadi mengatakan keputusan Kemenperin untuk fokus pada 5 sektor tersebut guna mengimplementasikan industri 4.0 sudah tepat.

"Ketika berbicara 'Making Indonesia 4.0' itu sebenarnya kan sudah menunjuk prioritas dan itu sudah merupakan langkah baik karena sebelumnya kalau kita bicara Kemenperin ini target industriya banyak sekali dan sekarang sudah lebih fokus," kata Fithra di Jakarta, Sabtu (7/7/2018).

Baca juga: Pengusaha Makanan dan Minuman Siap Implementasikan Industri 4.0

Dengan diprioritaskannya kelima sektor tersebut maka Fithra yakin bahwa implementasi industri 4.0 di Indonesia bisa berjalan dengan lancar.

"Sebabnya ya itu adalah industri-industri yang memang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi kita dan sejauh ini, itu semua masih on the right track," imbuh Fithra.

Dalam data Kemenperin, industri makanan dan minuman memiliki pangsa pasar dengan pertumbuhan mencapai 9,23 persen pada 2017.

Selain itu, industri tersebut menjadi penyumbang terbesar dalam produk domestik bruto (PDB) industri non-migas hingga 34,33 persen pada 2017.

Baca juga: Implementasikan Making Indonesia 4.0, Menperin Minta Tambahan Anggaran

Sebelumnya, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara mengatakan, peran industri makanan dan minuman juga tampak dari sumbangan nilai ekspor produknya, termasuk minyak kelapa sawit yang mencapai 31,7 miliar dollar AS pada 2017.

Dengan besarnya ekspor tersebut, maka neraca perdagangan mengalami surplus bila dibandingkan dengan nilai impornya sebesar 9,6 miliar dollar AS..

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.