Akademisi dan Polemik Mismanajemen Garuda Indonesia - Kompas.com

Akademisi dan Polemik Mismanajemen Garuda Indonesia

Kompas.com - 11/07/2018, 08:51 WIB
Pesawat Boeing 737 MAX 8 telah dioperasionalkan oleh Garuda Indonesia, di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (7/1/2018). ARSIP GARUDA INDONESIA Pesawat Boeing 737 MAX 8 telah dioperasionalkan oleh Garuda Indonesia, di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (7/1/2018).

TIDAK sedikit yang meragukan sinergi antara bidang keilmuan dan dunia profesional. Ketika menjumpai suatu permasalahan, bukan tidak mungkin hasil riset akademik yang mencoba menemukan solusi berakhir dengan celetukan, "Ah, kebanyakan teori!"

Sebaliknya, berkembang pula jurus instan atau tambal sulam guna menyelesaikan permasalahan tanpa melihat kembali tatanan keilmuan yang ada.

Premis ini tampaknya berlaku pada banyak sektor, salah satunya bisnis penerbangan sipil. Tidak heran jika terdapat jurang lebar antara dunia akademik dan profesional.

Belakangan ini, berita nasional sempat dihangatkan isu rencana mogok massal pilot Garuda Indonesia. Memiliki pangsa pasar penerbangan domestik yang signifikan, absennya maskapai berpelat merah ini berpotensi berdampak besar terhadap konektivitas dalam negeri, baik penumpang maupun kargo. Keutuhan jembatan udara nasional berada di ujung tanduk.

Salah satu latar belakang polemik tersebut ialah seputar pengelolaan maskapai penerbangan. Manajemen Garuda Indonesia kesulitan menemukan titik temu dengan Asosiasi Pilot Garuda serta Sekretariat Karyawan Garuda Indonesia terkait tuntutan restrukturisasi manajemen perusahaan. Ancaman mogok belum sirna.

Sembari negosiasi berlangsung, kiranya kita dapat menengok cerita insan akademik yang sukses membawa dunia penerbangan negaranya maju serta berdampak positif bagi sektor ekonomi dan pariwisata.

Cerita dari Negeri Kincir Angin

Kisah ini terjadi pada era 1970-an ketika Profesor Henri A Wassenbergh selaku Direktur International Institute of Air and Space Law Universiteit Leiden diangkat menjadi Senior Vice President KLM.

Wassenbergh memegang peranan supervisi terhadap hubungan kerja sama luar negeri. Ia juga dipercaya menjadi penasihat pemerintah Belanda dalam berbagai perundingan internasional terkait dunia penerbangan.

Saat itu konsep open skies tengah dikembangkan. Dunia sedang mencari tahu dampak positif maupun negatif dari kehadiran konsep baru tersebut. Suatu peluang muncul bagi mereka yang visioner.

Wassenbergh berhasil menganalisis dampak positif open skies serta membuat Belanda selangkah lebih maju melalui penandatanganan perjanjian open skies antara Belanda dan Amerika Serikat pada tahun 1992.

Alhasil, Bandara Schiphol sebagaimana telah dipersiapkan mendiang Wassenbergh dengan matang menjadi satu-satunya bandara di Eropa daratan yang kelimpahan penumpang dari seantero Amerika Serikat.

Armada KLM berhasil dipersiapkan guna menjemput peluang. Kepiawaian berdiplomasi Sang Profesor juga telah menciptakan jaring pengaman bagi ekspansi KLM, yaitu imunitas dari tuntutan praktik antikompetisi atau kartel sehubungan ditandatanganinya perjanjian kerja sama (code-shared) dengan maskapai Amerika Serikat, Northwest Airlines.

Kombinasi kedudukan dan ilmu yang dimiliki Wassenbergh memainkan peranan penting di balik cerita kebangkitan industri penerbangan Belanda sebagaimana turut berdampak positif bagi sektor pariwisata. Bayangkan, betapa banyak lapangan pekerjaan yang tersedia berkat ekspansi tersebut.

Kehadiran Schiphol sebagai salah satu hub utama di Eropa saat ini merupakan bukti keberhasilan menyinergikan riset akademik dengan dunia profesional.

Beberapa tahun lalu, Lufthansa terlihat mengikuti langkah KLM dengan menunjuk Profesor Regula Dettling-Ott sebagai salah satu petingginya.

Penunjukan tersebut memperkuat premis bahwa peran akademisi semakin diperhitungkan dalam bisnis penerbangan, salah satunya untuk tujuan ekspansi.

Mungkinkah terjadi di Indonesia?

Nyatanya suatu momentum hadir di balik kisruh yang tengah terjadi di tubuh Garuda Indonesia. Peluang ekspansi berpotensi muncul dari keberlakuan ASEAN Open Skies. Sebaliknya, pemanfaatan bersama pangkalan udara untuk penerbangan komersial sipil berpotensi menimbulkan masalah.

Masih terdapat sederet potensi peluang maupun permasalahan lain yang mungkin akan optimal terlihat hanya dari perspektif akademisi. Alhasil, sinergi dengan insan akademik dibutuhkan guna menentukan arah.

Hal ini tidak hanya berlaku bagi Garuda Indonesia, tetapi juga untuk Angkasa Pura selaku pengelola bandara sekaligus salah satu pemangku kepentingan utama. Ada anggapan bahwa tidak realistis bila menyarankan agar kursi Direktur Utama Garuda Indonesia diduduki seorang akademisi.

Lantas, apakah seorang bankir atau (mantan) kapten penerbang sebagai the right man on the right place juga sulit untuk menjawabnya?

Satu hal yang pasti ialah butuh sinergi untuk menjalankan maskapai penerbangan dengan optimal.

Sangat beralasan untuk mulai mempertimbangkan kehadiran akademisi pada jajaran manajemen Garuda Indonesia, Angkasa Pura, serta para pemangku kepentingan dunia penerbangan nasional lainnya.

Perlu individu yang benar-benar memahami ilmu terkait, semacam hukum udara dan manajemen transportasi udara.

Bila diracik dengan baik, akademisi dapat berperan signifikan guna menggapai peluang. Akademisinya pun bukan sekadar akademisi, tetapi yang berjiwa ekspansionis.


Komentar
Close Ads X