2018, Himbara Targetkan Cetak 18 Juta Kartu GPN - Kompas.com

2018, Himbara Targetkan Cetak 18 Juta Kartu GPN

Kompas.com - 12/07/2018, 18:08 WIB
Pekerja menunjukan kartu uang elektronik sebelum isi ulang (top-up) di Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/9). Ketua Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) Maryono menyatakan sepakat membatalkan rencana pengenaan biaya isi ulang (top-up) uang elektronik menyusul besarnya penolakan dari masyarakat. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/aww/17.ANTARA FOTO/M Agung Rajasa Pekerja menunjukan kartu uang elektronik sebelum isi ulang (top-up) di Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/9). Ketua Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) Maryono menyatakan sepakat membatalkan rencana pengenaan biaya isi ulang (top-up) uang elektronik menyusul besarnya penolakan dari masyarakat. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/aww/17.

JAKARTA, KOMPAS.com -  Himpunan Bank Milik Negara ( Himbara) menargetkan hingga Desember 2018 bisa menerbitkan kartu dengan logo Pembayaran Gerbang Pembayaran Nasional ( GPN) sebanyak 18 juta lebih.

“Kita perlu GPN dan Himbara pasti mendukung. Seluruh bank rasanya sudah me-launching ini di masing-masing bank. Hingga saat ini terus sosialisasi kepada masing-masing customer,” kata Direktur BTN Nixon Napitulu di Jakarta, Kamis (12/6/2018).

Hingga Mei 2018 beberapa bank telah menerbitkan kartu berlogo GPN yakni Bank Mandiri 7.055 kartu, BRI 22.500 kartu, BTN 6.207 kartu, dan BNI 16.838 kartu.  Adapun sampai akhir 2018 ini Bank Mandiri menargetkan 1 juta kartu, BRI 14 juta kartu, BTN 400.000 kartu, dan BNI 3 juta kartu.

Nixon menyebutkan, dengan adanya GPN ini bisa menjadi bentuk kedaulatan ekonomi nasional. “Penerapan GPN sebagai bentuk kedaulatan sistem pembayaran nasional, karena bentuk sistem pembayaran diatur secara nasional,” tambah Nixon.

Baca juga: Hampir 100 Persen ATM BCA Siap Support GPN

Sementara itu, Kepala Departemen Elektronifikasi dan Gerbang Pembayaran Nasional Bank Indonesia (BI) Pungky P. Wibowo mengatakan, tujuan utama dari GPN ini adalah agar masyarakat dapat bertransaksi secara mudah dan murah. 

“Antara seluruh penyelenggara jasa pembayaran akan terkoneksi secara sistematis berdasarkan platform yang sama sehingga masyarakat bisa menggunakan di mana saja dan dapat menggunakan seluruh kanal pembayaran,” ujar Pungky.

Biaya transaksi GPN tidak lebih dari 1 persen. “Indonesia adalhn pasar besar untuk pertumbuhan uang elektronik di masa depan,” sebutnya.

GPN adalah sebuah sistem yang terdiri atas standard, switching, dan services. Ketiga sistem dalam GPN tersebut dibangun melalui seperangkat aturan dan mekanisme untuk mengintegrasikan berbagai instrumen dan kanal pembayaran secara nasional.



Close Ads X