Indeks Saham Terendah Diprediksi Terjadi pada Agustus-September - Kompas.com

Indeks Saham Terendah Diprediksi Terjadi pada Agustus-September

Kompas.com - 13/07/2018, 08:45 WIB
Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee memperkirakan titik bawah pelemahan indeks saham terjadi pada bulan Agustus dan September. Menurut dia, setahun jelang pemilu, indeks rata-rata cenderung negatif.

"Indeksnya mungkin hit bottom di Agustus- September. Tapi tahun sesudah pemilu, positif," ujar Hans di Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Hans menilai indeks mulai tertekan dan bergerak ke bawah sejak Mei. Biasanya di awal tahun indeks masih tinggi karena melihat laporan keuangat tahun lalu. Kemudian, memasuki kuartal I pada April, akan terlihat laba dan ruginya. Seelahnya indeks mengalami fluktuasi dan mencapai bottomnya pada September.

"Bottom sekitar 5.400. Mungkin akan sampai September bottomnya," kata Hans.

Baru setelah itu, indeks merangkak naik. Meski begitu, pola tersebut tak selalu sama setiap tahunnya. Hans mengatakan, biasanya periode investasi pada September, Oktober, hingga Maret tahun berikutnya lebih positif dari bulan-bulan setelahnya.

Meski begitu, faktor eksternal yang akan mempengaruhi pergerakan indeks saham tetap perlu diperhitungkan.

"Masih melihat gonjang ganjing global. Perang dagang tidak tahu sampai kapan. Faktor suku bunga lebih bisa diprediksi. Faktor perang dagang tidak bisa diprediksi," kata Hans.

Hans memprediksi indeks sektoral yang masih tetap menjadi primadona yakni untuk infrastruktur dan konstruksi. Sebab, perhatian pemerintah pada sektor tersebut sedang tinggi-tingginya ditandai dengan pembangunan infrastruktur di mana-mana.

Selain itu, sektor finansial juga masih aman. Ia memandang Jasa Marga, Telkom, dan PGN mernjadi perusahaan yang masih memiliki peluang besar di tengah ketidakpastian pasar.

"Pasar saham terkait infrastruktur masih menjanjikan. Telekomunikasi seperti internet juga masih berpeluang besar," kata dia.



Close Ads X