Trump Kaji Fasilitas Bea Masuk, Mendag Segera ke AS - Kompas.com

Trump Kaji Fasilitas Bea Masuk, Mendag Segera ke AS

Kompas.com - 13/07/2018, 21:23 WIB
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Sosial Idrus Marham, seusai berbicara dialog nasional di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (16/5/2018)KOMPAS.com/NAZAR NURDIN Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Sosial Idrus Marham, seusai berbicara dialog nasional di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (16/5/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita akan memimpin kunjungan kerja ke Amerika Serikat (AS) pada 21-28 Juli 2018 mendatang.

Kunjungan kerja ini bertujuan menjaga keseimbangan hubungan dagang antara Indonesia dengan AS, dan akan menjadi pertemuan resmi pertama Kemendag dengan mitra kerjanya di AS sejak masa pemerintahan Presiden Donald Trump awal 2017.

Kunjungan ini merupakan langkah antisipatif atas dinamika perdagangan internasional saat ini yang memicu merebaknya kebijakan proteksionisme hingga kenaikan tarif bea masuk. Selain itu, kunjungan ini juga akan memperkuat kemitraan bilateral kedua negara.

"Pemerintah Indonesia akan berupaya menjaga dan mengamankan pasar komaditas ekspor Indonesia ke negara-negara tujuan ekspornya untuk mencapai target pertumbuhan ekspor 11 persen. Oleh karena itu, pemerintah harus sigap bertindak jika ada Indikasi pasar ekspornya akan mengalami hambatan," ujar Enggartiasto di kantornya, Jumat (13/7/2018).

Baca juga: AS Beri Tenggat Evaluasi Fasilitas Bebas Bea Masuk Indonesia Bulan Ini

"Kunjungan ke AS kali ini berupaya menjaga agar kepentingan ekspor Indonesia tidak terganggu karena AS adalah negara mitra dagang utama kedua setelah China," sambungnya.

Indonesia diagendakan memenuhi undangan Duta Besar United States Trade Representatives (USTR) untuk membahas review AS terhadap negara-negara penerima Generalized System Preferences (GSP) dan Indonesia merupakan salah satunya. GSP merupakan kebijakan AS dalam wujud pemotongan bea masuk impor.

Undangan ini merupakan hasil dari lobi yang dilakukan Pemerintah Indonesia. Selain itu, Enggar juga dijadwalkan bertemu Menteri Perdagangan AS serta menggalang dukungan dari industri dalam negeri AS.

Indonesia juga akan mengangkat isu defisit perdagangan AS dari Indonesia.

"Indonesia siap bermitra dengan AS untuk mengidentifikasi dan mengatasi isu defisit perdagangan karena kedua negara memiliki produk dan jasa yang tidak bersaing, tetapi saling melengkapi," kata Enggar.

Selain pertemuan bilateral dengan Mendag AS dan Dubes USTR, Enggar juga memanfaatkan momen kunjungan ke AS kali ini untuk melakukan forum bisnis bersama para pengusaha asal AS.

Enggar akan memboyong perwakilan Kadin Indonesia, asosiasi- asoslasi, serta para pengusaha sebagai bagian dari delegasi Indonesia dalam forum bisnis tersebut. Beberapa pertemuan yang diagendakan antara lain adalah dengan United States Chamber of Commerce serta pelaku usaha AS dalam format one-on-one business matching.

GSP merupakan kebijakan sepihak (unilateral) yang diberikan AS untuk membantu perekonomian Indonesia dalam wujud manfaat pemotongan bea masuk impor.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "AS Beri Tenggat Evaluasi Fasilitas Bebas Bea Masuk Indonesia Bulan Ini", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/07/13/210300126/as-beri-tenggat-evaluasi-fasilitas-bebas-bea-masuk-indonesia-bulan-ini.
Penulis : Andri Donnal Putera
Editor : Erlangga Djumena

Total perdagangan Indonesia dan AS pada 2017 tercatat sebesar 25,91 miliar dollar AS. Dari jumlah tersebut, ekspor Indonesia mencapai 17,79 miliar dollar AS dan impor Indonesia sebesar 8,12 miliar dollar AS. Sehingga, neraca perdagangan Indonesia terhadap AS surplus 9,67 miliar dollar AS.

Sedangkan, pada tahun 2018 (Januari-April) tercatat total perdagangan kedua negara sebesar 9,36 miliar dollar AS dengan neraca perdagangan surplus bagu Indonesia sebesar 2,84 miliar dollar AS. Pada periode tersebut, ekspor Indonesia sebesar 6,10 miliar dollar AS dan impornya 3,26 miliar dollar AS.



Close Ads X