Servant Leadership: Merindukan Pemimpin Yang Tidak Egois

Kompas.com - 18/07/2018, 08:00 WIB
Ilustrasi.SHUTTERSTOCK Ilustrasi.

Menurutnya, “Orang-orang dalam sebuah organisasi peduli dengan organisasinya, sebagaimana ia dipedulikan”. Makanya, ia pun tertarik untuk memperkenalkan konsep servant leadership, yang ia banyak lihat dari contoh positif yang diberikan ayahnya sendiri.

Salah satu kalimat menarik yang diucapkan oleh Greenleaf adalah, “Jika kamu melihat alasan untuk jadi seorang pemimpin adalah supaya kamu bisa dilayani, atau supaya kamu bisa jadi penguasa dan mengatur sana sini, maka…Kamu tidak tepat disebut sebagai seorang pemimpin!”.

Konsep pemimpin yang melayani, sebenarnya bukanlah konsep baru. Bahkan, dalam kitab kuno seperti yang ditulis oleh Lao Tse dalam buku Tao Te Ching telah memberikan penuntun soal pemimpin yakni, “Pemimpin yang hebat adalah yang menyatu dengan yang dipimpinnya, bahkan orangpun tidak terlalu sadar dengan kehadirannya. Bahkan ketika apa yang diinginkannya telah tercapai orang akan berseru, “Wah, kita telah berhasil melakukannya!”.

Begitu juga, dalam tradisi di India, penulis Chanakya dalam Arthashastra mengatakan dengan tegasnya, “Raja adalah seorang pelayan yang dibayar dengan uang rakyatnya untuk menikmatinya bersama rakyatnya!”. Sungguh kalimat yang pantas direnungkan oleh para pemimpin kita.

Penolakan Terhadap Servant Leadership!

Nyatanya, menghadirkan konsep servant leadership ini bukannya gampang. Ketika konsep servant leadership diperkenalkan di seminar dan training, hal ini bukannya tanpa penolakan.

Ada beberapa komentar yang muncul. Pertama-tama, ada yang mengatakan, “Ngapain jadi pemimpin, kalau nggak bisa mengatur!”. Bagi mereka ya, yang namanya pemimpin harus memiliki kuasa untuk mengendalikan, mengatur.

Penolakan lainnya, ada yang menganggap bahwa Servant Leadership melakukan campur tangan terlalu jauh dengan terlibat dalam kehidupan anak buahnya. Belum lagi, ada yang menganggap servant leadership membuat seorang pimpinan tampak kurang memiliki wibawa.

Bahkan, ada yang menangganggp terlalu menerapkan servant leadership akan membuat bawahan menjadi ngelunjak. Dan penolakan terkeras biasanya mengatakan pula bahwa servant leadership itu hanyalah suatu idealisme, nggak praktis dan juga nggak masuk akal.

Tapi, Mengapa Kita Justru Butuh Servant Leadership?

Yang jelas, seperti yang kita lihat, pilkada serentak baru saja usai. Banyak wajah pemimpin baru yang bermunculan. Dan motif mereka menjadi pemimpin pun bisa begitu beragam, mulai dari alasan yang paling egois sampai ke alasan yang paling mulia.

Realitanya, banyak pemimpin kita yang pada saat kampanye dan di awal pengukuhannya jadi pemimpin, berbicara soal idealismenya. Namun, apa yang terjadi beberapa tahun berikutnya?

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X