Servant Leadership: Merindukan Pemimpin Yang Tidak Egois

Kompas.com - 18/07/2018, 08:00 WIB
Ilustrasi. SHUTTERSTOCKIlustrasi.

Adakah benang merah dari kedua kisah di atas? Ada. Dua-duanya, berbicara soal pemimpin yang tahu diri, tahu tugasnya dan tahu bahwa menjadi pemimpin adalah amanah. Mereka-mereka adalah pemimpin luar biasa yang meletakkan egonya dibawah pentingnya tugas dan kebutuhan orang yang mereka pimpin. Itulah yang kita sebut Servant Leader, pemimpin yang serius melayani.

Sebenarnya, konsep pemimpin yang melayani, telah dipelopori sejak tahun 70an oleh seorang bernama Robert Greenleaf. Dialah yang memberi nama Servant Ledaership. Beliau adalah seorang pejabat tinggi di perusahaan AT&T yang terkemuka di Amerika, namun tidak puas dengan kepemimpinan yang disaksikannya saat itu di negerinya.

Menurutnya, “Orang-orang dalam sebuah organisasi peduli dengan organisasinya, sebagaimana ia dipedulikan”. Makanya, ia pun tertarik untuk memperkenalkan konsep servant leadership, yang ia banyak lihat dari contoh positif yang diberikan ayahnya sendiri.

Salah satu kalimat menarik yang diucapkan oleh Greenleaf adalah, “Jika kamu melihat alasan untuk jadi seorang pemimpin adalah supaya kamu bisa dilayani, atau supaya kamu bisa jadi penguasa dan mengatur sana sini, maka…Kamu tidak tepat disebut sebagai seorang pemimpin!”.

Konsep pemimpin yang melayani, sebenarnya bukanlah konsep baru. Bahkan, dalam kitab kuno seperti yang ditulis oleh Lao Tse dalam buku Tao Te Ching telah memberikan penuntun soal pemimpin yakni, “Pemimpin yang hebat adalah yang menyatu dengan yang dipimpinnya, bahkan orangpun tidak terlalu sadar dengan kehadirannya. Bahkan ketika apa yang diinginkannya telah tercapai orang akan berseru, “Wah, kita telah berhasil melakukannya!”.

Begitu juga, dalam tradisi di India, penulis Chanakya dalam Arthashastra mengatakan dengan tegasnya, “Raja adalah seorang pelayan yang dibayar dengan uang rakyatnya untuk menikmatinya bersama rakyatnya!”. Sungguh kalimat yang pantas direnungkan oleh para pemimpin kita.

Penolakan Terhadap Servant Leadership!

Nyatanya, menghadirkan konsep servant leadership ini bukannya gampang. Ketika konsep servant leadership diperkenalkan di seminar dan training, hal ini bukannya tanpa penolakan.

Ada beberapa komentar yang muncul. Pertama-tama, ada yang mengatakan, “Ngapain jadi pemimpin, kalau nggak bisa mengatur!”. Bagi mereka ya, yang namanya pemimpin harus memiliki kuasa untuk mengendalikan, mengatur.

Penolakan lainnya, ada yang menganggap bahwa Servant Leadership melakukan campur tangan terlalu jauh dengan terlibat dalam kehidupan anak buahnya. Belum lagi, ada yang menganggap servant leadership membuat seorang pimpinan tampak kurang memiliki wibawa.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X