Kemiskinan Menurun, tapi Kualitas Hidup Belum Meningkat

Kompas.com - 19/07/2018, 12:06 WIB
Warga berjalan di dekat kali yang dipenuhi sampah di Jalan Jati Bunder, Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (5/9/2017). KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGWarga berjalan di dekat kali yang dipenuhi sampah di Jalan Jati Bunder, Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (5/9/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Penurunan jumlah penduduk miskin yang tercermin dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dinilai tidak jadi jaminan pengentasan kemiskinan secara berkelanjutan.

Meski jumlah penduduk miskin turun, kualitas hidup dan ketergantungan terhadap berbagai bantuan-bantuan dari pemerintah dianggap masih terlalu tinggi sehingga masyarakat belum mandiri atau lepas dari kemiskinan absolut.

BPS mencatat, per Maret 2018, persentase penduduk miskin turun jadi 9,82 persen atau setara dengan 25,95 juta orang. Ini pertama kalinya persentase penduduk miskin di Indonesia pada level single digit.

"Ibarat orang miskin dapat harta karun, kan enggak jadi miskin. Tapi, kualitas hidupnya sama saja. Analoginya seperti itu," kata peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus saat dihubungi Kompas.com, Kamis (19/7/2018).

Ahmad merinci, sejumlah faktor yang berkontribusi pada penurunan jumlah penduduk miskin di antaranya ketepatan waktu penyaluran bantuan sosial tunai serta program bantuan lain, seperti beras sejahtera atau rastra serta Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Ditambah dengan periode survei kemiskinan dilakukan, yakni September 2017 sampai Maret 2018 yang tidak bertepatan dengan bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri.

Jika ke depannya berbagai program tersebut tidak lagi berlanjut, kemungkinan besar kelompok yang kini ada di atas garis kemiskinan, bisa kembali turun atau jadi di bawah garis kemiskinan. Sehingga, capaian penurunan jumlah penduduk miskin terakhir bukan karena kemampuan untuk bisa lebih produktif, melainkan karena suntikan yang sifatnya sesaat.

"Belum ada perbaikan kualitas kayak produktivitasnya, kinerja, output, kualitas pendidikannya belum berubah. Ketika harta karunnya habis, jadi miskin lagi," tutur Ahmad.

Adapun cara untuk menurunkan penduduk miskin serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat dinilai Ahmad sudah dilakukan pemerintah. Meski begitu, Ahmad mengingatkan agar pemerintah jangan cepat berpuas diri dan terus melakukan peningkatan standar dari program yang diadakan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X