Rekomendasi Investasi Bisa Saja Menyesatkan - Kompas.com

Rekomendasi Investasi Bisa Saja Menyesatkan

Kompas.com - 20/07/2018, 09:00 WIB
Ilustrasi THINKSTOCKS/WAVEBREAKMEDIA Ilustrasi

Saya senang berinteraksi dengan banyak orang di social media, seperti fanpage Facebook, akun Twitter maupun Instagram

Saya acap kali menemukan banyak orang di social media yang meminta rekomendasi, mulai dari rekomendasi saham, reksa dana, atau bahkan meminta rekomendasi untuk menyusun portofolio yang sedang mereka miliki saat ini.

Pekerjaan menyusun atau meracik portfolio sebenarnya dalam lingkup profesional bisa dikenal dengan nama manajer investasi.

Namun izinkan saya untuk menjelaskan alasan dibalik keengganan saya untuk memberikan rekomendasi yang sifatnya 'lepasan' atau asal ngobrol di social media.

Apakah Anda pernah melihat sebuah foto yang begitu indah dan keren, namun ketika Anda melihat proses foto dilakukan, ternyata sekitarnya sangat jauh dari bayangan kondisi dalam foto?

Ya, saya kira Anda semua pernah melihatnya.

"Apa saham yang bagus untuk saya beli?"

"Apa reksa dana yang tepat untuk investor pemula seperti saya?"

"Saham tambang milik saya turun terus, saya jual atau gimana ya?"

Apakah Anda setuju, bahwa pertanyaan-pertanyaan di atas layaknya sebuah 'foto' yang perlu dikomentari secara lebih teliti?

Di zaman yang penuh dengan gadget canggih ini, tentu akan menjadi pekerjaan yang tidak mudah bila Anda diminta untuk menentukan atau memilih gadget terbaik.

Kriteria gadget terbaik untuk Anda mungkin beragam. Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa gadget terbaik adalah gadget yang berlayar lebar, beberapa lagi mungkin menilainya dari kapasitas menampung memory eksternal yang besar. Di sisi lain ada juga yang menilai gadget terbaik dari keberadaan fitur finger print, scanner, NFC, atau besarnya kapasitas RAM hingga 8 GB.

Tentu akan memerlukan waktu yang tidak sedikit bagi Anda untuk memilih dan menentukan suatu gadget terbaik, bukan?

Apa bahayanya ketika Anda membeli gadget hanya dari rekomendasi saya?

Jawabannya adalah Anda akan mendapatkan gadget terbaik, namun bukan gadget terbaik versi Anda, melainkan versi saya.

Apakah gadget pilihan versi saya akan sesuai dengan harapan Anda? Jawabannya, belum tentu.

Bisa jadi sesuai, karena selera dan harapan Anda sama dengan selera saya. Namun kemungkinan besar hasilnya akan tidak sesuai.

Apa efeknya ketika Anda mendapatkan barang rekomendasi yang tidak sesuai dengan harapan Anda?

Anda tentu akan marah dan kecewa pada saya. Saya akan dianggap sebagai orang yang memberikan rekomendasi sembarangan dan tidak serius. Bahkan bisa jadi Anda menstempel dahi saya sebagai komplotan penjual gadget yang membuat laku sebuah merk tertentu.

Padahal....

Mungkin para pemberi rekomendasi telah memberikan jawabannya dengan rela hati dan tulus ikhlas. Namun sayangnya niat tersebut tidak sesuai dengan kriteria atau harapan orang-orang yang meminta rekomendasi.

Pada akhirnya, para pemberi rekomendasi ini bukannya mendapatkan ucapan terima kasih, tapi justru malah di cap negatif karena telah memberikan rekomendasi yang tidak sesuai dengan harapan para peminta rekomendasi.

Hidup zaman sekarang adalah hidup yang serba instan, dimana banyak orang mengharapkan mendapat jawaban dengan cepat dan hasil yang menguntungkan, tanpa memperdulikan prosesnya.

Sekilas, sebuah rekomendasi tampak seperti sebuah obat manjur yang dapat memberikan jawaban keputusan investasi dengan cepat dan instan bagi Anda.

Kecenderungan orang adalah mencari jalan singkat untuk mendapat jawaban berupa rekomendasi investasi, bukannya lebih berhasrat untuk menambah wawasan.

Jalan singkat mendapat jawaban berupa rekomendasi investasi hanya akan menuntun seseorang untuk menyelesaikan permasalahannya saat ini.

Namun, ketika harus menghadapi permasalahan lebih lanjut dalam portofolio investasinya, maka orang tersebut akan bingung, karena tidak tahu latar belakang pengambilan keputusan rekomendasi dan keengganan diri untuk belajar lebih banyak pengetahuan dan menambah wawasan.

Jalan terbaik untuk mengatasi masalah pengambilan keputusan pada saat berinvestasi adalah dengan mempelajari hukum sebab akibat. Namun, pada zaman yang serba instan ini, siapa yang peduli?

Jempol kita terkadang lebih cepat memviralkan suatu bacaan yang belum jelas kontennya atau bahkan cenderung menyesatkan, karena hanya terpikat dengan judul yang fantastis.
Padahal isi beritanya tidak sinkron dengan judul.

Saya pernah mengambil keputusan investasi yang salah, dan saya yakin Anda pun pernah melakukan kesalahan dalam berinvestasi.

Mulai sekarang, mari bangun rasa penasaran dan keingintahuan Anda, bukan mulai dari pertanyaan "Apa...?" tapi mulailah dengan pertanyaan "Mengapa...?" dan "Bagaimana...?"

Jalan singkat untuk menjadi investor yang lebih ahli dalam berinvestasi adalah dengan belajar kepada ahlinya. Ataupun, alternatif lainnya yang lebih singkat dan praktis adalah dengan membayar seorang yang ahli atau profesional untuk mengerjakan keperluan Anda.

Kombinasi dari tidak punya keahlian tapi memaksa mau mengolah portofolio investasi sendiri, ditambah ketidakmauan diri sendiri untuk belajar memahami prosesnya, akan menjadikan Anda sebagai manusia yang membingungkan. Dan jangan heran bila usaha investasi Anda berakhir dengan kegagalan.

Salam Investasi untuk Indonesia



Close Ads X